Nescafe Journey 2: Si Anak Rumahan Ke Jakarta (Part. 1)

Beberapa hari setelah pengumuman Nescafe Journey yang menggembirakan (dan menghebohkan), saya dan para pemenang Journey lainnya mulai disibukkan dengan e-mail pemberitahuan dari Nescafe tentang …. Simulasi Nescafe Journey. Yes, jadi sebelum melakukan perjalanan bersama para aspirers, Nescafe mengundang kami semua ke Jakarta untuk melakukan mini-journey yang akan memberikan gambaran seperti apa Journey kami nantinya. Tentu saja, sebagai perempuan dengan high level of curiosity (baca: kepo), saya sudah memiliki gambaran tentang simulasi ini dengan membaca blog para pemenang Nescafe Journey terdahulu seperti Mas Mamik, Mbak Buyan dan Mbak Nesa. Hehehe.

Tapi ternyata saya salah. Simulasi Nescafe Journey 2 kali ini sedikit berbeda dengan Nescafe Journey 1. *jeng-jeng*

Sabtu, 12 Januari 2013.

Siang itu teman saya, Ike, mengantarkan saya ke bandara dengan sepeda motor. Dengan membawa ransel dan koper kecil, saya membonceng di sepeda motornya. Rasa kerepotan tidak terasa, terkalahkan dengan imajinasi indah tentang simulasi di Jakarta nanti. Ditambah lagi sudah 3 tahun saya tidak pulang kampung ke Jakarta. Terakhir kali pun hanya mampir satu hari. Lalu sekarang, akhirnya saya bisa ke Jakarta tiga hari, untuk sesuatu yang super menyenangkan, and above all, it’s all free. Yayness! Oh ya, karena saya adalah satu-satunya peserta journey dari luar Jabotabek, Nescafe sudah mengaturkan segala hal untuk menerbangkan saya ke Jakarta. Dari tiket pesawat sampai tempat tinggal saya di Jakarta nanti. Awesome, right? I know.

Seingat saya, terakhir kalinya saya bepergian dengan pesawat adalah ketika tahun 2011 lalu keluarga saya melakukan family trip ke Kalimantan Selatan. Walaupun saya pernah bepergian sendirian dengan pesawat saat SMA dulu, tetapi tetap kagok juga rasanya berurusan dengan check in, airport tax, boarding pass dan airport thingy lainnya sekarang. It has been 1,5 years, anyway.

Damri-Bandara
sumber: Bismania

Sesampainya di Soekarno-Hatta, saya merasakan sedikit kepanikan dalam hati. Jadi ceritanya, siang itu saya harus naik Damri ke arah Blok M dari bandara. Lalu mengapa panik? Karena saya, si anak rumahan ini, tidak pernah sekalipun naik Damri dan pergi ke Blok M pun sepertinya baru sekali-dua kali saat masih kecil dulu. Parah, yes? Setelah bertanya pada si Mbak pengecek bagasi, akhirnya saya melenggang masuk ke loket Damri dengan terlihat berpengalaman. Dengan tiket kuning di tangan (Rp 25.000,00), saya berjalan ke arah bus dengan tulisan “Blok M” di kaca depannya. Si kondektur bus menawarkan untuk membawakan koper kecil saya ke kotak bagasi di dalam bus. How nice, batin saya. Hingga beberapa menit kemudian, si kondektur bus mendatangi saya yang sedang duduk manis di pinggir jendela, lalu mengulurkan tangannya.

“Mbak, anu, tadi ongkos angkutnya…”

“Err…”

Dengan grogi saya memberinya selembar uang warna ungu yang saya simpan di kantong. Ugh, saya protes dalam hati, it was just a small suitcase, saya juga bisa membawanya sendiri. Saya pikir itu bagian dari service mereka. Tapi ya udah lah ya, selamat datang di ibukota.

jakarta_dawn_view_by_hendraku
Sumber: Ini

Selama perjalanan dari bandara ke Blok M, saya benar-benar menikmati cityscape Jakarta yang indah. Bagi sebagian besar (atau mungkin semua) penduduk Jakarta , gedung-gedung tinggi, perkampungan kumuh di bawah jalan tol dan flyover yang saling bersilangan mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa, atau bahkan membosankan (atau menyebalkan kalau dilihat saat macet). Tetapi bagi saya yang biasa tinggal di Semarang-Jogja, pemandangan itu sangat cantik. Banyak-banyaklah bersyukur, warga Jakarta. Coba lihat sekeliling kalian melalui sudut pandang warga luar kota. Hehehe.

Well, akhirnya sekitar satu jam kemudian saya tiba di depan Blok M Plaza. Siang yang cukup terik dan udara khas Jakarta menyambut saya. Hari sebelumnya, saya dan anak-anak Journey lain sebenarnya sudah janjian untuk saling menjemput dan pergi bareng ke kantor Ignite. Siang itu kami memang dijadwalkan untuk melakukan Pre-Simulation di kantor Ignite, perusahaan media yang menangani campaign Nescafe Journey. But since this is Jakarta yang tidak bisa ditebak trafficnya, akhirnya kami tidak bisa saling menjemput karena masing-masing kami terjebak di perjalanan. Saya pun lalu menelpon Ades, contact person Ignite yang menangani kami, anak-anak Journey yang super rewel. Kebutaan saya tentang Jakarta, terutama daerah selain Jakarta Utara, ternyata membuat banyak orang panik. Ades dan teman-teman Journey berusaha memberi arahan jalan menuju kantor pada saya tetapi gagal. Saya ikut merasa gagal sebagai perempuan yang dulu pernah mengaku tidak gampang nyasar dan pintar membaca peta. Oh well, tetapi akhirnya, setelah berputar-putar di daerah terminal Blok M beberapa lama, Ades pun menemukan saya dan kami berjalan bersama ke kantor. *lega*

149163_3750321966123_1972901948_n
Ades Si Baik Hati

Di ruang meeting Ignite, saya disambut Sefin, Odie dan Jalal yang sudah lebih dulu datang. Untungnya tidak butuh waktu lama untuk mencairkan suasana di antara kami. Malah rasanya kami sudah pernah kenal sebelumnya, seperti teman lama, thanks to teknologi bernama grup WhatsApp. Tidak berapa lama Karin dan Lemon menyusul kami di ruang meeting. Lalu setelah itu datanglah serombongan besar orang yang ternyata adalah team Nescafe Journey! Ada team Ignite: Mbak Muning, Kak Nunu, Ades dkk. Lalu ada juga team video yang dipimpin Mbak Mandy: Om Etek, dkk serta team CGI: Om Adhe, Om Bule dkk. Di momen ini saya baru merasa awkward karena kagum sekaligus tidak percaya bisa bertemu mereka semua.

r600x600
Geng Nescafe Journey @ Kantor Ignite (sumber)

Meeting pun kami mulai dengan saling memperkenalkan diri dilanjutkan dengan membahas garis besar Journey kami masing-masing. Gosipnya, Team Teteh akan berangkat ke satu destinasi di Papua yang menjadi impian semua orang, Team Mas Darto digambarkan akan menjalani roadtrip dengan kemungkinan satu kali menyebrangi lautan, sedangkan Team Bang Nico, mengutip kata Om Adhe waktu itu,

“Nah, team Nico nih yang kemungkinan bakal capek naik turun pesawat dan perjalanan darat, siap-siap aja jaga kesehatan ya!”

Segera setelah itu, saya langsung tidak fokus dengan pembicaraan meeting. Pikiran saya terus bertanya-tanya ke mana kami akan pergi; Sumatra? Sulawesi? Kalimantan? Maluku? Papua? Kyaaaa. Saya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan saya mendengar ucapan Om Adhe. Rasa lelah pun hilang seketika.

Topik meeting selanjutnya adalah tentang Simulasi Nescafe Journey yang akan diadakan esok harinya. Ternyata, kami akan melakukan mini-journey semacam acara “Amazing Race” dari kantor Ignite menuju Taman Mini. Selama perjalanan, kami akan ditemani seorang fixer dari team CGI dan dibekali uang Rp 75.000,00 per orang. Sesampainya di TMII nanti akan ada instruksi lanjutan. Inti acaranya memang masih dirahasiakan, yang penting kami harus datang esok paginya jam 8 tepat di kantor Ignite.

r600x600 (1)
Selesai Meeting! (sumber)

Nah! The happiest part is, sebelum rapat ditutup, akhirnya Om Adhe memberi sedikit bocoran tentang destinasi kami. Team Teteh akan ke RAJA AMPAT, Team Mas Dar akan roadtrip keliling JAWA-BALI, sedangkan Team Bang Nics akan pergi ke… SUMBA-TORAJA-JOGJA-JAKARTA. Woot! Woot!! Mood kami semua langsung melonjak naik. Bayangkan saja, setelah lama tidak traveling, tiba-tiba saja saya akan diajak bepergian naik turun pesawat dan jalan darat selama dua minggu, membuat film dokumenter, di Sumba-Toraja-Jogja-Jakarta, bersama Nicholas Saputra. *pingsan* :)))

b

+

v

+

c

+

film-dokumenter

+

aadc2wf8

=

Spongebob-Happy-spongebob-squarepants-154897_338_432

Setelah meeting selesai, kami semua bubar menuju tempat tujuan masing-masing. Beberapa anggota team Nescafe Journey melanjutkan rapat di tempat lain, beberapa peserta Journey pergi mencari kebutuhan Journey mereka, sedangkan saya memilih untuk diantar Mbak Muning ke hotel dan beristirahat. Hari Minggu besok sepertinya akan lebih seru sekaligus melelahkan. Saya harus mempersiapkan fisik dan mental untuk simulasi dan juga…..bertemu aspirer saya. Hahaha!

Advertisements

2 thoughts on “Nescafe Journey 2: Si Anak Rumahan Ke Jakarta (Part. 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s