Nescafe Journey 2: Si Anak Rumahan Ke Jakarta (Part. 2)

Hello again. I’ve been quite busy lately but now I’m back to tell #NescafeJourney 2 stories!

Minggu, 13 Januari 2013.

Pagi-pagi sekali saya bangun. Sendirian di kamar hotel, menikmati sunrise dari jendela kamar saya yang menghadap Jalan Panglima Polim. Sudah lama sekali saya tidak terbangun di Jakarta, jadi saya mencoba untuk benar-benar menikmati atmosfer Jakarta di pagi hari itu. Jalan yang masih cukup lengang perlahan menjadi ramai tetapi masih dalam taraf wajar. Traffic Jakarta di hari Minggu memang lebih sopan dan menyenangkan. Setelah puas gegoleran di kamar, saya pun mulai packing, mandi lalu turun untuk sarapan.

Seingat saya, ini adalah perjalanan solo pertama saya. Maksudnya, perjalanan yang benar-benar sendirian mulai dari perjalanan pesawat sampai menginap di hotel. Sebelumnya saya sudah beberapa kali naik kereta api atau pesawat sendirian, tapi sesampainya di tujuan pasti ada yang menjemput dan saya pasti menginap di tempat saudara / teman. So this trip is a whole new experience for me and I’m enjoying every second of it. Entah kenapa ada perasaan yang menyenangkan (dan keren) ketika berada di kamar hotel dan melakukan segalanya sendirian di kota orang. Saya merasa tough dan mandiri. *ngok*

Setelah sarapan, saya memesan taksi pada resepsionis hotel untuk meluncur ke kantor Ignite di Blok M. Untunglah pagi itu semua berjalan lancar. Supir taksi yang saya tumpangi ramah dan baik hati, jalanan Jakarta lengang dan menyenangkan, udara pun cukup sejuk. Sampai di kantor Ignite, saya membawa koper dan ransel saya ke dalam lift. Sendirian, tentu. Untunglah saya segera disambut Karin, Odi dan Lemon di lantai 5. Setelah saya, mimin @IniBaruHidup pun muncul. Tapi biarlah identitasnya tetap anonim, ya. Dia toh bukan tokoh utama dalam cerita ini. *evillaugh*

60779_609506632398463_529933376_n
Menunggu Sefin & Jalal

Kemudian beberapa anggota team Nescafe Journey pun datang melengkapi kami berlima. Tetapi ada satu masalah, Jalal dan Sefin belum datang juga padahal hari semakin siang. Rupanya mereka berangkat bersama dari Depok dan ada kendala teknis dengan kereta mereka di tengah perjalanan. Kami pun menunggu sambil memandu mereka lewat telepon dan socmed. Untunglah beberapa saat kemudian Sefin dan Jalal tampak berjalan berdua dari kejauhan. Ternyata akhirnya mereka memilih naik Bus TJ tetapi Jalal memilih halte yang cukup jauh dari kantor Ignite untuk turun. Mereka pun sampai di lobby kantor basah kuyup dengan keringat padahal simulasi belum saja dimulai. *pukpuk*

IMG-20130322-WA0002IMG-20130322-WA0003IMG-20130322-WA0004

IMG-20130322-WA0005

Akhirnya kami lengkap berenam. Om Adhe segera membagi kami ke tiga kelompok dengan satu fixer yang mendampingi petualangan kecil kami pagi itu. Saya bersemangat sekali kami semua akan pergi ke Taman Mini. Karena…well, Taman Mini itu keren. Nineties sekali dan keren. Level kerennya sama seperti Kebun Binatang Ragunan di film “Postcards From The Zoo”. Ngerti maksud saya kan? Seperti semua anak yang menghabiskan masa TK-SDnya di Jakarta pada tahun 1990-an, saya menyimpan memori berharga tentang karyawisata ke Taman Mini. Dan hari ini saya akan mengulang kunjungan itu lagi. So, yeah, Taman Mini, saya datang!

c

Saya, Jalal dan Mas Dre memulai perjalanan kami ke Taman Mini dengan berjalan kaki ke Terminal Blok M. Seumur hidup, saya belum pernah masuk ke terminal ini. Saya hanya sering mendengarnya di cerpen atau berita. Kami memutuskan untuk naik Bus TJ dari Terminal Blok M ke Tamini Square. Menurut Jalal, perjalanan kami akan menjadi kurang seru karena langsung sampai. Mungkin Jalal berpikir perjalanan kami akan lebih seru kalau naik di atas gerbong KRL dan dilanjut dua jam jalan kaki. No thanks yah, Jalal. We don’t have time (and guts) to do it your way this time.

fg

Perjalanan kali ini adalah perjalanan perdana saya dengan bus TJ. Ternyata Bus Trans Jakarta relatif lebih luas dan nyaman daripada Bus Trans Jogja yang biasa saya naiki. Penumpangnya pun terasa lebih bervariasi. Ah, how I love riding buses. Dengan naik kendaraan umum seperti bus, saya dapat bertemu banyak orang sekaligus dan memperhatikan tingkah laku mereka. You know, it is a fun way to kill boredom. Oh ya, karena kami berangkat dari daerah Jakarta Selatan menuju Jakarta Timur, kami beberapa kali berpindah jalur bus. Menarik sekali ketika kami turun di daerah Semanggi dan kami harus berjalan di sebuah koridor yang cukup panjang untuk berpindah halte. Keren. Maafkan kekaguman saya yang berlebihan terhadap Jakarta ini, ya. Sepertinya saya sudah terlalu kangen.

Dari atas koridor yang mirip jembatan penyebrangan itu, kami melihat ada yang aneh dengan jalan raya di bawah kami. Jalan besar itu lengang sekali. Ternyata hari ini adalah Car-Free Day! Pantas udara pagi itu segar sekali, tidak seperti biasanya.

e

Sekitar 1 – 1,5 jam kemudian, kami pun sampai di halte Tamini Square. Saya, Mas Dre dan Jalal memutuskan untuk jalan kaki ke pintu masuk Taman Mini yang Jalal definisikan dengan: “Dekat, kok.” Saat itu kami masih percaya penuh dengan ucapannya. Maklum, kami baru kenal dan Jalal kan terkenal sebagai petualang tangguh yang bersepeda dari Pati ke Jakarta. Saya pikir dia pasti sudah khatam menyusuri Jakarta. Saya dan Mas Dre pun berjalan mengikuti Jalal yang melangkah dengan meyakinkan sekali.

Dua puluh menit kemudian, kami bertiga tergoda melihat penjual ketoprak dan es cendol di pinggir jalan. Dengan tidak ragu-ragu kami pun duduk dan segera memesan 3 gelas es cendol dan 2 porsi ketoprak. Belanda masih jauh, Jendral!

jh

Setelah makan, kami lanjut berjalan kaki beberapa puluh menit. Hmm, saya dan Mas Dre mulai meragukan Jalal. Mengapa pintu masuk Taman Mini belum kelihatan juga? Tidak lama kemudian, kami pun yakin telah salah mempercayakan arah perjalanan ini pada Jalal karena ternyata dia pun tidak tahu di mana pintu masuknya. *lemparsepatu*

Setelah tersesat beberapa kali ke tempat yang tampak seperti pintu masuk Taman Mini, akhirnya perjalanan kami menemukan titik terang. Kami melihat dan melewati beberapa landmark ciri khas Taman Mini seperti …

k
“…. Yayasan Bu Tien Soeharto”
l
Ini museum apa hayo?
m
Pintu masuk yang sudah modern

Yeah! Akhirnya kami pun sampai di gerbang Taman Mini setelah 40 menitan berjalan kaki plus beberapa kali tersesat. Setelah membayar tiket di loket, kami melenggang masuk ke tempat karyawisata favorit tahun 90-an ini. Ternyata banyak hal yang belum berubah dari tempat ini lho. Di beberapa tempat tampak beberapa rombongan yang menggelar tikar besar dan berpiknik di bawah pepohonan rindang. Anak-anak kecil dan remaja berseliweran mengendarai sepeda tandem. Rasanya tiba-tiba kami berteleportasi ke tahun 90-an. Menyenangkan! Oh ya, ternyata kalau mau merasakan naik monorail, kalian cukup main ke Taman Mini, kok.

no

Di Taman Mini, kami berenam mendapat tugas baru: berfoto di anjungan destinasi masing-masing, berfoto di beberapa museum, dan melakukan tantangan dari aspirer. Karena saya dan Jalal mewakili team #YouthCulture, kami diberi tantangan untuk berfoto dengan komunitas yang sedang berkegiatan di Taman Mini. Sepertinya ini akan seru. Di sini, kami dibebaskan untuk menggunakan transportasi apapun untuk berkeliling. Sefin-Karin memilih naik sepeda tandem sedangkan Odi-Lemon sepertinya sempat mencoba mobil listrik. Berbeda dengan dua grup lainnya, team #YouthCulture yang sangat tangguh ini memutuskan berkeliling Taman Mini yang luas ini dengan berjalan kaki (lagi). *tepuktangan*Well, di peta Taman Mini semua tempat tujuan kami terlihat dekat makanya kami memutuskan untuk jalan kaki saja, sekalian menghemat uang saku. Dan awalnya semua terasa menyenangkan, kok. Ya, … awalnya.

Kami mengunjungi anjungan Yogyakarta, NTT dan Sulawesi Selatan dilanjutkan dengan berfoto di Museum Transportasi yang surprisingly keren, hingga berfoto dengan komunitas Bismania yang juga sedang berkunjung ke sana. Hal yang menarik ketika mengunjungi Museum Transportasi adalah tempatnya yang tidak terlalu luas tetapi menampung segala jenis transportasi yang pernah ada di Indonesia. Mulai dari bus Damri biasa, bus tingkat yang manis, lokomotif tua, gerbong kereta presiden, mobil-mobil antik, hingga pesawat terbang. Ya, semua moda transportasi itu tumplek blek di sebidang tanah yang tidak lebih luas dari kompleks fakultas tempat saya berkuliah.

32

1v

qt

Setelah berkeliling ke seluruh tempat itu, kaki saya mulai terasa sakit. Saya mengusulkan pada Jalal untuk menumpang mobil listrik atau kereta uap saja ke tujuan berikutnya. Tetapi usul saya ditolak dengan alasan: “tanggung, nih, sudah dekat.” Matahari yang semakin tinggi, kami lapar, lelah dan buta arah di tengah Taman Mini. Mas Dre yang terlihat masih segar berinisiatif menanyakan arah pintu keluar kepada pengunjung dan sekuriti. Setelah beberapa kali bertanya, kami pun berjalan menuju arah yang seharusnya.

Sebelum keluar, kami memutuskan untuk makan siang tepat di samping teater IMAX Keong Mas. Rasa lapar ini sudah makin menjadi-jadi. Di sana kami tidak sengaja bertemu team #MeetingNewPeople yang juga sedang makan siang. Ketika sedang menunggu pesanan kami datang, sms dari team Nescafe masuk ke handphone kami semua. Rupanya setelah ini kami harus segera menuju Bumi Perkemahan Cibubur, team Nescafe sudah menunggu kami semua di sana.

Selesai makan, kami langsung menuju pintu keluar dan mencarter angkutan umum menuju Buperta Cibubur.

4

Amazing Race (Blok M – Taman Mini): Mission Accomplished! :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s