Nescafe Journey 2: Sumba – Arrival (CKG – DPS – TMC)

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar Pulau Sumba? Gunung Tambora, Danau Kelimutu atau malah… Gunung Rinjani?

Kalau kamu menjawab salah satu dari tiga pilihan di atas maka kamu telah membayangkan pulau yang salah. Ketiga ikon pariwisata Indonesia yang terkenal di atas tidak berada di Pulau Sumba. Gunung Tambora ada di Pulau Sumbawa, Danau Kelimutu ada di Pulau Flores sedangkan Gunung Rinjani ada di Pulau Lombok. Lalu, ada apa di Pulau Sumba? Apa yang terkenal dari pulau ini?

630px-East_Nusa_Tenggara_regions_map

Sejak tiga minggu sebelum keberangkatan team #YouthCulture ke Sumba, saya sering sekali googling tentang pulau ini. Maklum, saya dan beberapa teman sempat salah mengira pulau ini dengan Sumbawa. Beberapa teman lain malah tidak mengetahui keberadaan pulau ini di Indonesia. Miris sekali. Hal ini membuktikan Pulau Sumba memang destinasi yang belum begitu populer di Indonesia. Walaupun akhir-akhir ini banyak traveler yang mulai mengekspos keindahan Indonesia Timur, tetapi rupanya Sumba masih belum sepopuler Alor, Pulau Komodo, atau Raja Ampat.

Kamis, 14 Februari 2013

Pagi-pagi buta saya, Om Adhe, Jalal, Om Bule dan Mimin @IniBaruHidup sampai di Soetta. Ternyata Mas Bocor dan Bang Etek sudah terlebih dulu sampai di sana. Saat pertama bertemu, segala sesuatunya masih awkward. Jalal rupanya belum pernah naik pesawat, sedangkan saya sudah lama tidak naik pesawat dengan orang lain. Sudah lama juga saya tidak mendorong trolley berisi tas-tas berukuran jumbo begini (fyi, selain membawa perlengkapan pribadi kami masing-masing, rombongan kami juga membawa perlengkapan shooting yang cukup banyak — total seluruh bagasi kami: 11 tas besar termasuk 6 carrier dan 1 tripod). Permulaan perjalanan ini rasanya awkward. Hahaha.

731394063
kamera mimin nih yang burem… :(

Saya deg-degan bercampur excited sekaligus sedikit cemas. Rombongan ini laki-laki semua, lho. Bagaimana kalau nanti saya kedatangan ‘tamu bulanan’ di tengah perjalanan ini? Bagaimana kalau kebiasaan buruk saya saat tidur keluar di depan mereka semua? Bagaimana kalau saya tidak cocok dengan makanan di Sumba dan Toraja? Bagaimana kalau, kalau, kalau… *tonjokdirisendiri* Sejuta pertanyaan lalu lalang di dalam pikiran saya. Kalau kalian jeli saat menonton video Day-1 Nescafe Journey team #YouthCulture, kalian pasti bisa menangkap kegelisahan saya.

Bang Nics terlambat pula pagi itu (sepertinya karena acara malam sebelumnya dia belum sempat tidur deh, hehe). Saya bertambah deg-degan. Terakhir kali kami bertemu, kami hanya ngobrol sekitar dua jam-an. Lalu sekarang saya harus ngomong apa ya supaya mencairkan suasana? Bagaimana ya, ya, ya? Pagi itu saya galau sekali. Tetapi kemudian setelah Bang Nics datang ternyata segala sesuatunya lancar-lancar saja, tuh. Segala kegalauan saya lenyap tanpa bekas. Kue kering dan bakpia yang saya bawa dengan cepat merekatkan seluruh anggota team. :p

Pesawat pagi itu membawa kami ke Denpasar. Seluruh anggota team tampak bersemangat dan bahagia memulai perjalanan ini kecuali Bang Nics yang langsung tepar ketika pesawat take off dari Soetta. Sepanjang perjalanan, saya dan Om Adhe yang duduk di sebelahnya menjadi saksi posisi tidur Bang Nics yang aneh-aneh. Seharusnya saya dokumentasikan, ya… *evil-grin* Sesampainya di Ngurah Rai, kami langsung berlarian mengejar pesawat selanjutnya yang akan membawa kami ke Sumba karena perbedaan waktu kami sampai di Bali dan waktu take-off kami selanjutnya saat itu hanya sekitar 20 menit (atau 1 jam 20 menit) ! Setelah tergopoh-gopoh mendorong troli dan sampai di ruang tunggu, barulah ada pemberitahuan kalau flight kami selanjutnya ditunda hingga 1-2 jam kemudian. Rasanya lega sekaligus gelo. Delay ini sebenarnya sudah kami prediksi secara kami naik pesawat “singa terbang” yang hobi delay. Tetapi siapa yang bisa memprediksi waktu delaynya? Iya kalau hanya 1-2 jam, bagaimana kalau sampai 5 jam? Rencana hari pertama kami di Sumba bisa kacau.

b
Clear Blue Skies @ Denpasar

Untunglah setelah sekitar satu jam kami literally gogoleran, panggilan boarding pesawat kami menggema di ruang tunggu. Kami segera menenteng cabin luggage masing-masing menuju … sebuah pesawat baling-baling! Saya norak sekali ketika menaiki pesawat ini. Maklum saja ini pertama kalinya. Sebenarnya pesawat kami cukup besar, bukan pesawat baling-baling berisi 4-5 orang yang sering muncul di film-film itu.

pesawat di film-film (sumber)

Tetapi tetap saja saya kagum dengan noraknya. Hehe. Di dalam pesawat ini rasanya cukup sempit dan panas, entah mengapa. Dan ketika sudah lepas landas dan melayang di udara, rasanya hening. Tidak ada suara dengung mesin yang biasanya terdengar dan laju pesawat ini pelan sekali. Hahaha, rasanya seperti mengapung di udara.

Oh ya, karena ini pertama kalinya saya ke daerah Nusa Tenggara, saya penasaran sekali dengan penampakan gugusan pulau Nusa Tenggara dari udara. Apalagi pesawat kami terbang cukup rendah sehingga memungkinkan saya untuk mendokumentasikan cantiknya pulau-pulau tersebut dari jendela pesawat. Thanks to the clear blue skies, here are the photos (no filter / edit at all)…

d
look at that heavenly shorelines!

 

h
so calm and paradise-like, isn’t it?
g
sea of clouds…

*bandingkan dengan foto Jakarta dari jendela pesawat saya di sini :p

Setelah mengapung di udara selama beberapa jam, pesawat kami tampak melayang di atas sebuah pulau yang masih hijau. Gedung-gedungnya masih jarang dan berjarak jauh antara satu gedung dengan gedung lainnya. Jalan daratnya yang berwarna putih kecoklatan tampak mengular mengitari dan membelah pulau ini. Pohon-pohonnya tampak tidak terlalu rapat dan lebat. Tampaknya permukaan pulau ini luas tertutupi padang rumput dan sabana yang masih hijau. Hmm, kami sedang terbang di atas Pulau Sumba rupanya. Pesawat terbang makin rendah dan akhirnya pramugari mengumumkan bahwa kami benar-benar telah tiba di Sumba. Woot!

e
we are flying exactly above the Sumba Island…

Hal yang pertama kali menyambut kami di tanah Sumba adalah: keheningan. Sejauh mata memandang, hanya ada satu pesawat yang terparkir di landasan pacu yaitu pesawat kami. Aktivitas khas airport seperti mobil pengangkut bagasi yang lalu lalang, rombongan pilot dan pramugari serta petugas lapangan yang memberi komando sama sekali tidak ada. Hening, kosong, sepi. Sedikit aneh, tapi aneh yang menyenangkan. Damai sekali. Rasanya tempat ini menawarkan tempat persembunyian sempurna dari hiruk pikuk Pulau Jawa yang melelahkan. Kami sungguh rela ‘diculik’ selama empat hari oleh pulau ini. Dengan senang hati. :)

DSC_0910
selamat datang di Tambolaka Airport … :)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s