Nescafe Journey 2: Anak-Anak Sumba

Walaupun sering dibilang galak, sejak kecil saya merasa mempunyai koneksi spesial dengan anak-anak. Saya merasa lebih mudah mendekati dan mengakrabi anak-anak dibanding orang dewasa. Si teteh menyebutnya “Magnet Mamah”. Hahaha. I took that as a compliment, Teh. Bagi saya, sebagian besar anak kecil mempunyai sinar mata yang berbeda dengan orang dewasa. Walaupun mereka tidak mengatakan apapun, saya bisa merasakan cara pandang mereka yang berbeda dalam memandang dunia. Rasa ingin tahu yang besar tentang dunia sekitarnya membuat mereka berlarian ke sana kemari, mengejar, menyentuh, menarik segala hal yang menarik perhatian mereka. Andaikan manusia dewasa dapat melihat dunia melalui sudut pandang mereka, tentunya kata ‘bosan’ tidak akan terlintas dalam benak.

DSC_0927
Si Gembil @ Kampung Lapalle

Salah satu hal yang selalu membuat saya teringat akan Sumba adalah penduduknya. Penduduk di sini khususnya anak-anak Sumba. Rata-rata orang asli Sumba berperawakan sedang dengan kulit coklat susu dan rambut hitam pekat. Mata bulat besar dengan bulu mata tebal nan lentik serta raut wajah mereka sedikit mengingatkan saya pada orang-orang Indonesia keturunan Eropa. Kecantikan dan ketampanan yang unik. Hal ini bisa jadi warisan asimilasi warga lokal dengan para pedagang dari daratan Eropa yang terjadi ratusan tahun lalu. Sayangnya kedatangan saya ke Sumba kali ini bisa dibilang cukup singkat sehingga saya merasa kurang cukup berinteraksi dengan warga lokal untuk mengenal mereka lebih dekat.

1
Kakak Beradik dari Wanokaka

Selama di sini, saya mendatangi beberapa kampung dan desa adat setempat. Di antaranya adalah Desa Weigalli, Kampung Lapalle, Kubu Bewi, Desa Paulangga, dan Kampung Weitabar. Sebagian besar anak-anak warga lokal yang kami temui bersembunyi dan sangat malu-malu ketika bertemu dengan orang baru. Ketika saya menanyakan nama mereka, sebagian menjawab pelan sekali dengan menunduk sambil tersipu-sipu sedangkan sebagian anak-anak lainnya malah tidak menjawab dan lari ke belakang orangtua mereka.. :)) Anehnya, sikap mereka mendadak berubah ketika saya mengeluarkan kamera pocket saya. Anak-anak yang bersembunyi mengintip perlahan dan yang tadinya malu-malu kini mendekat dan bertanya “Apa itu? Apa itu?” Ooo saya tahu sekarang. Segera saya menawarkan mereka untuk difoto dan disambut dengan anggukan penuh semangat.

Rupanya kamera masih menjadi barang langka di sini sehingga mereka tampak sangat penasaran. Bahkan kamera Bang Etek yang tentunya jauh lebih besar daripada kamera saya menjadi ‘incaran utama’ mereka. Hihihi. Ketika kami istirahat makan siang, anak-anak warga lokal tampak bersemangat mengerubuti kamera Bang Etek yang digantung di dahan pohon.

6
Lari Malu-Malu @ Wanokaka

Saat difoto, mereka tidak berpose di depan kamera. Mereka hanya memberikan senyum malu-malu yang sama. Saya sampai ikut-ikutan tersenyum melihatnya. Ekspresi mereka tampak natural. Setelahnya, sebagian berebut melihat hasilnya sedangkan sebagian lain kembali tertunduk malu atau lari bersembunyi. Aduh gemes! :))) Rasanya kok sulit sekali lho mau ngobrol dengan mereka.

2
Digendong Kakak @ Kampung Weitabar
5
Cool Pose @ Wanokaka
4
Anak Pantai Selalu Santai :)
2
Si Cantik Emma
8
Meringis
3
Beach Bros
3
Namaku Linus @ Desa Paulangga, Sumba Timur

Saat shooting di Kampung Weitabar, kami sempat dikejutkan oleh suara tangisan anak kecil. Para ibu dan bapak segera memanggil-manggil, “Chico, chico!” Rupanya seorang anak bernama Chico terjatuh ketika sedang berlarian. Kakaknya yang ditugaskan sang ibu untuk menjaga si Chico ini pun kena marah. Ketika kami menghampirinya, eee si Chico ini kok lucu sekali rupanya. Pipi tembam dan mata bulatnya membuat saya ingin memeluknya segera. Lucunya lagi, berbeda dengan anak-anak lain, si Chico ini langsung mendekati kami dan sama sekali tidak tampak malu-malu. Gemes! Konon katanya, sang ibu menamakannya sesuai nama salah satu artis sinetron di tv… :)))

1
Chico as in Chico Jericho … :)))

Di hari kedua, kami kembali ke Kampung Weitabar untuk mengambil pesanan kain tenun Sumba yang kami customized sendiri sehari sebelumnya. Saya pun berkesempatan untuk bertemu si lucu ini lagi. Setelah urusan kain tenun selesai, saya langsung mengambil kesempatan untuk berfoto bersama Chico. :)))

9
Menurut team #YouthCulture, kami berdua mirip,lho! :)))
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s