On Being A Scholarship Hunter: The Prologue

Tidak banyak orang di sekitar saya yang tau kalau saya ini seorang scholarship hunter. Sejak di bangku SMP, saya memulai perburuan saya di dunia “perbeasiswaan” ini. Maklum saja, saya baru melek internet di bangku kelas 6 SD dan baru benar-benar fasih menggunakannya saat SMP. Ketika itu saja sebagian besar waktu saya di warnet saya habiskan dengan chatting di mIRC.. *selftoyor*

Selain berkat internet, orangtua saya (khususnya si papi) juga sering bercerita pada saya tentang peluang bersekolah di luar negeri dengan beasiswa sejak saya masih berseragam putih-merah. Seingat saya, saat itu saya hanya baru mengenal beasiswa kuliah di Singapura. Tidak hanya bercerita, si papi juga sering membelikan buku-buku tips kuliah ke luar negeri dan menunjukkan liputan televisi tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang saat itu membuat mata saya berbinar-binar. Saya ingat sekali salah satu liputan TV yang saya tonton saat itu adalah kehidupan mahasiswa/i yang sekolah perhotelan di Swiss. Bagaimana tidak, jendela kamar asrama mereka berhadapan langsung dengan pegunungan Alpen!

Kemudian di awal masa puber saya itu mulailah saya berandai-andai dan menyusun rencana masa depan. Saya memang belum tau caranya, tapi suatu hari nanti saya ingin kuliah ke luar negeri dan tinggal di sana (entah belum tau di mana)! Begitulah impian saya. Karena masih cukup abstrak, jadilah saya bergabung dengan milis beasiswa dan membaca blog-blog mahasiswa Indonesia di luar negeri untuk mencari gambaran yang lebih jelas tentang negara pemberi beasiswa dan kehidupan mahasiswa di luar negeri sana. Ternyata saya dapat menemukan banyak sekali informasi melalui internet. Para sesepuh scholarship hunter di milis beasiswa juga sangat humble dan suportif dalam mendorong calon-calon penerus mereka. Seiring waktu saya pun terus memupuk impian abstrak ini.

Salah satu kebiasaan yang melekat erat dalam diri saya adalah seringnya saya over fokus dengan sesuatu yang saya senangi /  impikan. Kebiasaan ini kadang berdampak positif tetapi juga tidak jarang berdampak negatif. Contohnya saja, ketika saya sedang mengerjakan suatu proyek yang saya impikan, saya bisa mengedit video selama hampir 12 + 6 jam non-stop. Positifnya, proyek saya berakhir dengan gemilang. Negatifnya, saya nyaris tidak makan (hanya makan biskuit 1 bungkus yang kebetulan ada di kamar) dan tidur (ketiduran di lantai selama 1-2 jam), apalagi mandi! Dalam hal perburuan beasiswa yang saya impi-impikan ini, saya rasa hasilnya cukup positif. Ketika sedang bersemangat, saya bisa googling informasi beasiswa selama berjam-jam dan kemudian hasilnya saya masukkan ke dalam folder-folder di laptop yang telah saya namai sesuai benua tujuan beasiswa tersebut. Bagi orang lain, hal tersebut mungkin melelahkan atau dicap “kurang kerjaan”, tetapi entah mengapa saya mendapat kepuasan batin tersendiri dari aktivitas tersebut. :)))

Segala pencarian informasi beasiswa itu akhirnya bermuara pada percobaan pertama melamar beasiswa. Saat itu saya di bangku kelas 3 SMP dan sedang mempersiapkan diri untuk UAN. Sebuah kabar beasiswa ASEAN Scholarship datang ke rumah saya melalui koran. Kabar tersebut langsung memacu saya untuk belajar ekstra keras selama tahun terakhir saya di SMP. Perjuangan saya mengejar nilai UAN dan menaikkan nilai raport ternyata akhirnya bahkan tidak berhasil meloloskan saya dalam seleksi berkas. Percobaan pertama saya gagal. Saya ngamuk, ngambek dan bahkan bertanya, “Apa Tuhan mengutuk saya?” Drama-queen banget, yes? Rupa-rupanya, kesalahan saya adalah tidak mengisi lengkap pada kolom nilai di form pendaftaran. Kebetulan tahun itu, UAN SMP hanya mengujikan 3 mapel, sedangkan pihak ASEAN Scholarship meminta 5 atau 6 mapel. Saya yang merasa paham hanya mengisikan 3 mapel di kolom tersebut dan langsung didiskualifikasi. Moral of the story: Jangan sotoy, karena nila setitik rusak susu sebelanga.

I personally think that there is (almost) no beginner’s luck in scholarship hunting. Selama ini saya jarang sekali mendengar pengalaman orang yang mencoba melamar beasiswa untuk pertama kalinya dan langsung lolos. Beasiswa di sini khususnya beasiswa ke luar negeri, ya. Di mana biasanya pihak pemberi beasiswa mensyaratkan essay, motivation letter, recommendation letter, interview atau persyaratan lainnya yang bisa jadi sangat asing di telinga orang awam. Tetapi tentu saja kemungkinan tersebut selalu ada! :)

Saya kembali mencoba melamar beasiswa untuk kedua kalinya di penghujung masa SMA. Setelah gagal di percobaan pertama, kali ini saya menjadi ekstra hati-hati dan sedikit paranoid. Selama beberapa bulan, saya mempersiapkan berkas sebaik-baiknya dan menanyakan informasi sejelas-jelasnya untuk mendaftar beasiswa Monbukagakusho jenjang S1. Well, karena saat itu nilai UAN saya selisih beberapa poin dengan persyaratan Monbusho S1, akhirnya saya mendaftar Monbusho D2 melalui jalur jarak jauh (via surat lamaran yang dikirim langsung ke kedubes Jepang). Beberapa saat kemudian, sebuah sms masuk ke handphone saya. Saya lolos seleksi berkas! Sayangnya kabar gembira ini menjadi sebuah dilema karena di saat yang bersamaan, saya juga berhasil lolos SNMPTN untuk fakultas Psikologi UGM. Setelah menimbang-nimbang dengan matang, akhirnya saya melepas kesempatan itu for a greater good.

Ternyata pada akhirnya saya tidak menyesali pilihan saya saat itu. Memasuki perkuliahan di UGM, saya segera mencari-cari “kantor”-nya para scholarship hunter … KUI UGM (Kantor Urusan Internasional UGM). Berdasarkan beberapa informasi, setiap PT memiliki kantor urusan internasional. Kantor inilah yang berjasa menghubungkan mahasiswa-mahasiswa Indonesia dengan kesempatan-kesempatan menuntut ilmu di luar negeri. Tidak hanya itu sih, kantor ini juga bertugas untuk mengurus mahasiswa asing yang bersekolah di PT setempat, mengurus acara-acara internasional intra kampus, dan lain sebagainya. Di UGM, kantor ini memiliki website pribadi yang rutin mencantumkan info-info scholarship, summer school hingga international conference. Kalau berminat untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, jangan malas-malas membuka website ini karena hampir semua peluang beasiswa LN bagi mahasiswa UGM dicantumkan di sini dan setiap beasiswa memiliki deadline-nya masing-masing.

Melalui website KUI (atau OIA) inilah saya melakukan 2 kali pelamaran beasiswa yang kembali berujung pada kegagalan. Hahaha. Ketika kita benar-benar menginginkan beasiswa tertentu, memperjuangkannya mati-matian dan berujung gagal itu sakit lho rasanya. Mirip-mirip dengan rasa patah hati lah. Awalnya penuh harapan, diperjuangkan mati-matian, mengejar segala persyaratan yang dituntut, ehh… gagal. Kadang-kadang bisa sampai malas makan, tidur tidak enak, dan nangis setetes dua tetes. :p

Kegagalan ketiga saya sebenarnya bukan percobaan melamar beasiswa di web KUI, tetapi percobaan saya menembus beasiswa AMINEF Global Undergraduate Exchange Program (UGrad). Beasiswa ini saya akui sangat menggiurkan. Uang saku, uang buku, roundtrip airplane tickets, kesempatan sekolah gratis plus tinggal (dan tentunya traveling) di Amerika Serikat selama setahun penuh. So worth the struggle, at least for me. Sayangnya setelah semua prasyarat saya kumpulkan, semua essay saya ketik, tiba-tiba saya mendapat kabar dari alumni UGrad yang saya kenal lewat Facebook bahwa persyaratan essay UGrad tahun itu bertambah menjadi 3 essay. Whooot. It was just a week before the due date. Saya panik total. Sudah berminggu-minggu saya begadang demi satu personal statement yang sempurna dan sekarang saya harus bikin dua lagi ?! Setelah kepanikan berlalu, saya menyadari kegagalan saya kali ini adalah akibat saya yang terlalu precautious dan lagi-lagi paranoid. Inti ceritanya, saya mendownload application form jauh-jauh hari sebelum due date. Kira-kira hampir setengah tahun sebelumnya. Tetapi kemudian sekitar 2 bulan sebelum due date, pihak AMINEF merevisi app form-nya dan menambahkan persyaratan essay mereka. Beklah, sepertinya memang belum jatah saya. Hari pengumuman tiba dan seperti perkiraan saya sebelumnya, saya tidak lolos. Meweklah saya. Sedikit.

Dua kegagalan selanjutnya adalah hasil dari percobaan saya melamar beasiswa Fukuoka Women’s University dan beasiswa AIKOM dari Tokyo University. Keduanya adalah program kerjasama UGM dengan FWU dan Todai (Tokyo Daigaku: Tokyo University). Sepertinya setelah gagal menembus UGrad, impian masa kecil saya untuk tinggal di negara Nobita dan Doraemon tumbuh kembali. Untuk beasiswa FWU, saya dan empat orang lainnya lolos seleksi berkas dan berhasil menjadi peserta seleksi wawancara di KUI UGM. Dari lima orang tersebut, 3 orang lolos ke dalam short-listed candidates yang akan diajukan UGM pada FWU. Lalu dari shortlist tersebut sepertinya hanya 1 yang berangkat dari UGM. Saat itu saya gagal di tahap interview. Maklum, first-timer groginya kebangetan saat diwawancara. Hehehe. Kegagalan beasiswa AIKOM terjadi tahun ini, tahun 2013. Untuk beasiswa yang satu ini saya memang tidak terlalu mengharapkannya. Kenapa? Karena saya sudah jiper duluan melihat nama-nama peserta seleksi berkasnya yang rata-rata sudah senior dan aktif berperan di kampus. Saya sih merasa masih anak bawang yang sedang cari pengalaman. :))) Well, pada akhirnya saya tidak lolos. Legawa saja, karena memang tidak terlalu berharap. Tapi tentunya tidak putus asa. Masih banyak kesempatan, tidak ada alasan untuk menyerah! Hehehe.

tumblr_lxk2ptmwRx1qczqexo1_500

*rangkaian blogpost ini ditulis untuk menggenapi janji saya beberapa tahun yang lalu… ;)*
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s