5000 Kilometer Menuju Saga (Part. 1)

24 September. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Saya ingat langit pagi itu cerah. Biru dan nyaris tanpa awan. Matahari cukup terik walaupun jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Saya sekeluarga mengangkut dua koper sedang yang baru selesai saya pak beberapa jam sebelumnya ke dalam mobil. Carrier merah dari perjalanan Nescafe Journey juga tidak lupa saya ajak serta dalam perjalanan panjang kali ini. Sebuah tas selempang kecil yang saya bawa saat ke Sumba dan Toraja beberapa bulan lalu juga kembali menjalankan tugasnya sebagai penjaga printilan penting seperti tiket dan kawan-kawannya.

Pagi itu, nasi langgi yang dibelikan si Mami tidak sanggup saya habiskan. Nasibnya sama seperti makanan lain yang saya konsumsi beberapa hari belakangan. Setelah 1-2 suap masuk ke dalam mulut, saya langsung merasa kenyang—bahkan eneg. Tentu saja kenyang ini kenyang psikologis. Maag saya nyaris kambuh karena pola makan saya berantakan saat itu. Tiga hari sebelum hari H adalah yang terparah. Saya nyaris tidak bisa makan apapun dan kesulitan untuk tidur di malam harinya. Saya tidak pernah menyangka bisa mengalami gejala psikosomatis yang begitu parah.

Perjalanan ke bandara terasa begitu lama … dan hening … dan aneh. Hanya ada saya, si Papi dan si Mami di dalam mobil. Pikiran saya kacau karena memikirkan banyak hal sekaligus. Biyasa. Saya sakit perut.

Bisa jadi karena saya memikirkan koper-koper saya yang over limit. Belum lagi cabin luggage saya juga over limit. Kebetulan perjalanan saya dari Semarang ke Singapura menggunakan LCC dengan kode nama AA. Saya optimis bagasi saya akan lolos di bandara Ahmad Yani karena saya pernah sedikit over limit juga ketika menggunakan AA dan lolos. Tetapi untuk perjalanan selanjutnya (Singapura – Bangkok – Fukuoka), saya menggunakan maskapai asing dengan kode TG, yang notabene bukan low cost carrier semacam AA. Di sinilah masalahnya… kalau koper-koper saya tidak lolos di Semarang, saya bisa unpack dan meninggalkan beberapa barang untuk dibawa pulang ke rumah lagi oleh orangtua saya. Lha kalau tidak lolosnya di Singapura begimana? Mau dibuang di mana 6 kilo excess baggage saya?

Atau bisa juga sakit perut saya disebabkan oleh perjalanan panjang ini, tentu saja. Saya sudah beberapa kali traveling sendirian di dalam negeri, tapi ini adalah pertama kalinya saya pergi ke luar negeri sendirian. Dengan bawaan berpuluh kilo pula. Ditambah lagi saya akan jauh dari keluarga. Sangat jauh. Tidak seperti jauhnya Jogja yang bisa ditempuh dalam 2 jam dengan travel subuh dari Semarang. Kali ini saya akan menempuh 5000 kilometer ke timur laut Indonesia untuk menjejakkan kaki di negara impian masa kecil saya. Jepang. No way back, tiket sudah di tangan dan tiket pulang baru akan saya beli menjelang akhir program nanti.

Sampai di bandara, saya segera turun untuk check in dan memasukkan dua koper ke bagasi. Si Mami ikut menemani dan menunggu di depan pintu masuk ruang check in. Segera setelah check in dan membayar airport tax, saya keluar menemui orangtua saya dan menunggu di mobil. Sembari menunggu, saya menjejalkan paksa nasi, tempe, serundeng dan kawan-kawannya ke dalam mulut dan memaksa diri untuk mengunyah dan menelannya. Hambar. Saya tidak bisa merasakan rasa apapun. Waktu seperti merayap pelan saat kami bertiga tidak bergeming. Tapi ketika kami ngobrol dan berusaha mencairkan suasana yang mellow, waktu mengalir sangat cepat. Menyebalkan.

Lima belas menit sebelum waktu boarding, kami bertiga turun menuju pintu keberangkatan. Awkward. Kami tau kami semua sedih tapi kami sama-sama berusaha tidak menampakkan kesedihan itu dan akhirnya kekikukanlah yang terlihat. Saya dan si Mami akhirnya banjir, sedangkan si Papi berhasil tidak banjir dengan sibuk berjalan ke sana kemari dan mengalihkan topik. Well, I think we really should express our goodbyes just the way it is. Kalo sedih, ya sedihlah. Kalo nggak, ya nggak usah pura-pura sedih. Jujur saja dan setelahnya semua akan terasa lebih baik.

Melalui gerbang-gerbang pemeriksaan bagasi cabin dan imigrasi dengan muka sembab dan mata berkaca-kaca adalah hal yang memalukan sebenarnya. Para petugas seperti iba sekaligus bingung melihat saya yang bepergian sendirian dengan mata bengkak (mata saya memang mudah bengkak sesudah nangis). Saya bahkan sempat salah masuk ruang tunggu domestik karena tidak fokus. Untunglah segera diarahkan dan tidak lama kemudian panggilan boarding menggema.

Dengan menyeret segala printilan bagasi cabin saya yang overlimit itu, saya naik ke cabin. Sebelum masuk, saya menghirup udara Indonesia dalam-dalam sambil mencoba untuk mengingat detil aromanya dan memetakan segala hal yang akan saya tinggalkan sementara setahun ini. It will be an amazing year ahead and I will experience wonderful things and come back here with lots of stories. That’s what I said to myself.

So that’s how it went. Goodbyes might be the hardest part of a journey. But we all must pass that phase to begin a new one.

a

…and then, up and away we go. Next stop, Singapore!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s