Japan Journal #019 – Sunday Routine & Dine Out @ Bishnu

Hari Minggu kemarin, ada bazaar di Sagadai kampus Nabeshima. Sepertinya seru karena ada balon udara yang boleh dinaikin segala! Sepertinya seluruh Saga sudah warming-up buat Baloon Fiesta besok November. Tapi karena jadwalnya bentrok dengan jadwal kebaktian, ditambah saya sudah nggak pengen shopping-shopping lagi sampe gajian, akhirnya saya milih buat ke gereja aja. Ini sudah minggu ketiga saya ibadah di Saga Christ Church, gereja denominasi baptis yang ada di pusat kota Saga. Awalnya saya diajak ke gereja ini sama anggota PPI, Bu Steeva, karena gereja ini salah satu (atau malah satu-satunya?) gereja yang ada service bahasa Inggrisnya. Jadilah tiga minggu ini saya coba beribadah di sini. Saya jelasin lebih detail di blogpost sendiri deh ya nanti gimana teknis ibadah di gereja ini.

DSC01027
Kota Saga di hari Minggu.

Salah satu ritual yang menyenangkan sebelum ke gereja adalah jalan kaki atau naik sepeda sepanjang jalan ke gereja. Kenapa menyenangkan? Karena pemandangan yang saya lewati menyenangkan (mata) sekali.

jalan raya di depan gereja.

Pertama saya akan lewat ladang di belakang International House, lalu lanjut menyebrang perempatan masuk ke kampus yang hening di Minggu pagi, lalu nyebrang lagi di perempatan sevel ke jalanan sepi menuju danau tengah kota. Setelah sampai situ, saya akan naik jembatan dan melewati area Museum Prefektural Saga yang penuh pohon-pohon besar, setelah itu masuk ke area Saga-Jo (Saga Castle) yang tentunya rapi. Di seberang Saga-Jo ini ada restoran bergaya Victorian yang manis sekali. Setelah lewat Saga-Jo, saya akan lewat gedung kantor NHK. Nah, setelah melewati NHK saya akan mulai mendengar jeritan-jeritan dari kejauhan. Pertama kali melintasi rute ini dengan Tina, saya agak keder juga mendengarnya. Suaranya semacam ini:

“Hyaaaak!”

“Wuaaaaa!”

“Eeeeek!”

“Whuooo!”

Ternyata suara ini berasal dari lantai 3 gedung olahraga SMA Ryukoku di mana anak-anak SMA itu sedang latihan kendo. Hahaha. Oya di depan SMA ini ada sebuah gedung yang sepertinya abandoned dan di halamannya ada 2 pohon besar sekali seperti di buku cerita dongeng. Mungkin itu yang namanya pohon oak. *sotoy* Tidak jauh dari gedung ini, ada rumah yang dibangun di tepi sungai. Yang unik dari rumah ini adalah ada pohon besar semacam pohon oak itu juga yang tumbuh dari bawah rumah! Benar-benar tumbuh mengangkat rumahnya. Jadi kalau kita lihat, rumahnya akan terlihat sedikit miring. Benar-benar seperti di buku cerita, deh… :))

DSC00993
Pohon negeri dongeng di tepi sungai.
DSC00994
Kembang cakep di depan etalase toko.

Setelah melewati pohon-pohon ajaib itu, saya tinggal menyebrang beberapa perempatan untuk sampai ke jalan tempat gereja saya berada. Jalan ini tidak ramai dan tidak besar juga. Hanya jalan lurus dua arah yang ditumbuhi pepohonan kecil dengan jarak yang teratur di kiri kanannya. Dari seluruh wilayah Saga-shi, sepertinya baru (atau cuma?) daerah ini yang pohonnya menguning dan memerah di awal bulan Oktober ini. Sekitar 30-40 meter berjalan, sampailah saya di gereja.

DSC00995
Salah satu shopfront yang manis di kota Saga.

Selama dua kali menjalani rutinitas ini, saya jadi memperhatikan bahwa banyak sekali coffee shop kecil di Saga-shi ini. Bahkan coffeeshop-coffeeshop ini seperti tidak ada namanya. Hanya kaca-kaca buram, dekorasi kafe (patung-patung kecil, tanaman pot, dll) dan tulisan “OPEN” menggantung di depan pintunya. Posisinya pun seperti meringkuk masuk ke dalam, mblusuk di gang-gang, seperti bersembunyi dari jalan raya. Ugh, membuat saya semakin penasaran untuk masuk. Selain itu, shopfront di kota ini manis-manis sekali. Bisa jadi karena Saga kota kecil yang tidak terlalu tersentuh hawa-hawa modern, ya. Atmosfer kota ini seperti stuck di tahun 80-90an begitu…dan saya suka. Vintage yang tidak artifisial. Apa adanya.

Entahlah apakah di semua kota di Jepang juga seperti ini, tapi dua hal tadi cukup untuk membuat saya betah di Saga (sementara ini)… :)

Jalan di sekitar Saga Prefectural Museum.

Sepulang gereja, saya menyasarkan diri ke pusat kota Saga. Downtown lah istilahnya. Waaah, ternyata di kota ini ada gedung-gedung tinggi juga, lho. Hehehe. Menyenangkan sekali bisa menjelajahi kota sendirian di hari Minggu yang sepi. Saya juga mampir ke Joyfull untuk makan siang. Tadinya pingin pesan gratin, tapi karena tidak bisa baca katakana, jadilah yang terpesan doria. Doria itu semacam baked rice lah.

Tadinya saya ke pusat kota ini pingin cari restoran pizza untuk rencana dining out bareng Shashika dan Viraji malamnya, tapi tidak ketemu. Karena batere handphone sudah menipis, saya memutuskan untuk pulang saja dan mencari bareng-bareng nantinya. Hasilnya, tadi malam kami berempat berputar-putar downtown mencari restoran pizza yang dimaksud selama lebih dari setengah jam. Beuh! Perut yang sudah lapar tambah lapar saja. Apalagi sesudah ketemu, ternyata restoran pizza yang dimaksud sudah tutup. Siaul. Catatan buat penduduk dan pendatang di kota Saga ya, Pizza Pockets sudah tutup. Habis. Lenyap. Silahkan cari restoran pizza lain.

DSC00842
Bishnu.

Akhirnya Plan B kami jalankan. Karena rencana kami semula adalah makan apapun selain japanese food, jadilah kami mampir di Bishnu, sebuah restoran India di tengah kota yang sebenarnya cukup bisa dibilang upscale restaurant. Ini kali kedua saya makan di sini. Sebelumnya, saya, Tiara dan Ayyi pernah diajak Pak Fajar makan di sini. Karena restoran ini cukup mahal, kami berencana untuk memesan kodomo setto-nya Bishnu. Kebetulan dulu Tiara pernah pesan dan enak sekali! Roti naan, semangkuk curry, semangkuk salad kentang, semangkuk cocktail yoghurt, dan segelas lassi hanya ¥499 !! Sumpah, lassi dan yoghurtnya enak sekali. Awalnya, si pelayan langsung membolehkan kami memesan 4 set paket anak-anak itu. Tetapi, di tengah saya asyik melamunkan lassi dan yoghurt yang akan segera datang, si pelayan datang lagi dan bilang kalau paket itu tidak bisa kami pesan (karena obviously, kami bukan anak-anak lagi). Entahlah kenapa dulu Tiara bisa beruntung banget. Huhuhu.

DSC00830
kodomo setto yang enak itu …

*menangis*

Akhirnya kami pesan paket curry + naan ¥999 dibagi dua. Haha! Tetep mureee. Selain itu, kami juga pesan tambahan lassi (saya dan Tiara) dan cheese naan (Viraji dan Shashika) dibagi dua juga. Perut kenyang, hati senang. Kami semua pulang dengan riang gembira malam itu, kecuali Viraji yang pulang dengan lebih gembira karena membawa bungkusan sisa cheese naan-nya yang tidak habis… :)))

cheese naan sebenarnya adalah pizza dengan keju leleh di dalam, mirip calzone lah.

 Viva la Bishnu! xD

Mon, 14.10.13

10.30 PM

Di atas futon di kamar sendiri, gogoleran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s