Japan Journal #029 – Culture Shock (?)

(Cerita ini seharusnya dipost 2 hari lalu, tapi karena padatnya acara, baru bisa dipost sekarang.)

Sejak datang ke Jepang hingga sekarang ini, entah kenapa saya tidak merasakan culture shock yang begitu hebat. Atau mungkin belum ya, karena belum juga sebulan saya di sini. Budaya Jepang yang saya rasakan dan lihat sehari-hari di sini rata-rata sudah pernah saya ketahui lewat buku, artikel, manga atau film. Contohnya, budaya tepat waktu, sapa menyapa, sopan santun yang luar biasa, sampai gaya berpakaian. Iya, mahasiswa di kota kecil seperti Saga pun gaya berpakaiannya tetap oke. Murid-murid asing pasti kelihatan deh karena gaya berpakaian (dan make-up) nya berbeda (banget) … :)))

Sampai tibalah hari ini. Sepertinya baru hari ini, tepatnya siang tadi, saya merasa tidak enak hati sekali menjadi orang asing di Jepang. Saya, atau tepatnya kami, baru saja kena amuk orang Jepang. *hiks*

Jadi … ceritanya, tadi siang, saya dan 2 teman saya memutuskan makan siang di sebuah restoran di dekat kampus. Konon restoran ini terkenal murah dan tonkatsu-nya enak. Maka siang tadi, saya, Kou (Taiwan) dan Tsai (China) pergi ke restoran tersebut dengan ekspektasi cukup tinggi. Sampai di sana, kami disambut si bapak pemilik resto dan dipersilahkan duduk. Setelah melihat menunya, hmm sepertinya tidak murah-murah amat juga. Harganya sekitar 550-700 sekali makan. Ya sudah, kami tetap duduk dan pesan makanan. Saya pesan katsudon, Kou pesan chikkin namba, Tsai pesan entah-apa-tapi-semacam-donburi. Setelah pesan, si bapak memberitahu kami kalau hari ini kami bisa ambil 3 “small dishes” sambil menunjuk lemari berisi berbagai side dish dan dessert seperti panacotta, puding, cheesecake, salad, potato salad, tofu, tumis akar lotus, dsb. Wah, ternyata makanan di sana murah karena dapat ++ berbagai side dish. Dengan setengah gembira dan setengah tidak yakin kami mengubek lemari itu. Kou dan Tsai mengambil 2 side dish dan 1 dessert sedangkan saya kebalikannya.

Eh.. tiba-tiba saja si bapak pemilik resto datang membawa makanan kami dan ngomel-ngomel dalam bahasa Jepang. Dari gesturnya sepertinya kami tidak boleh ambil dessert dulu sebelum makan selesai. Dengan setengah tidak enak hati, kami kembalikan dessertnya (kecuali cheesecake yang sudah saya makan separuh). Si bapak pergi sambil mengomel dalam bahasa Jepang… Saya hanya menangkap kata “Wakaru?! Wakaru?!” yang dengan intonasi si bapak, di otak saya diterjemahkan jadi “Ngerti nggak sih dibilangin dari tadi?!” … :(

Sambil makan, kami bertiga memperhatikan sekeliling. Pengunjung lain mulai berdatangan untuk makan siang. Semua yang datang memang mengambil small dishes saja, tidak ada yang ambil dessert. Mungkin memang seharusnya dessert diambil terakhir. Ya sudah, kami pun segera menghabiskan makanan kami supaya bisa mengambil dessert. Saya akhirnya tidak jadi mengambil dessert karena sudah makan cheesecake sebelum makan (-.-) tapi karena Kou dan Tsai masih punya jatah, saya pun mengusulkan mereka untuk mengambilnya. Setelah Kou mengambil 2 panacotta dan kembali ke meja, … eh si bapak dateng lagi dong ke meja sambil ngomel lagi. Aduh, dalam hati saya rasanya malu setengah mati karena restoran itu sedang ramai-ramainya. Kou berusaha bertanya apa yang salah, tapi si bapak malah mendengus kesal dan langsung mengangkat nampan makan Kou dengan kasar dan meletakkannya (atau bisa dibilang membantingnya) di rak. Ternyata maksudnya si bapak itu, sebelum ambil dessert, kami harus membereskan makanan kami dan menaruhnya di rak. Ish. Mana kami tau. Kami pikir setelah makan dessert kami baru akan selesai makan. Mayoritas restoran di sini memang mewajibkan pengunjungnya untuk bersih-bersih sendiri. Tapi baru kali ini saya masuk ke restoran dengan banyak aturan kaku dan pemiliknya galak seperti si bapak… huh! >:(

Dengan hati tidak karuan, kami berusaha menghabiskan dessert itu dengan ngobrol, berusaha mencairkan suasana. Sampai tiba saatnya kami membayar di kasir (dan dilayani oleh si bapak itu juga, karena dia bekerja sendirian), kami masih berusaha sopan dengan mengucapkan “Arigatou gozaimashita.” (one of the politest form of “thank you”) Dan tebak, gimana respon si bapak? Beliau hanya melengos pergi saja …… Geez.

P.S setelah kejadian ini, saya bertanya pada beberapa orang tentang si bapak. Beberapa orang yang pernah makan di sana mengiyakan bahwa si bapak memang orang yang sangat kaku dengan aturan-aturannya dan sepertinya dia berharap orang yang makan di sana sudah tau aturan tersebut. Kata tutor saya, si bapak memang selalu terlihat ‘grumpy’ tetapi aslinya baik. Oh well. Entahlah.

Fri, 25.10.13

4.42 PM

Di lantai 2 toshokan (perpustakaan) Saga University, super ngantuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s