Japan Journal #102 – Happy New Year 2014!

Hello my blog (and readers, whoever you are), it is now the 4th day of 2014 already. Did you enjoy your 2013? As for me, I had so many happiness last year it made my 2013 went through in the speed of light. Kalian mungkin pernah dengar, kalau kita menikmati sesuatu, waktu akan terasa cepat sekali berlalu. Dan saya juga pernah baca, ketika kita melakukan sesuatu yang baru, kita juga akan membentuk persepsi kalau waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Maka dari itu, saya menyimpulkan, tahun kemarin saya banyak bersenang-senang sekaligus melakukan hal baru.. :) Hehehe. *Kampai for 2013!*

Tahun 2013 dimulai dengan saya, Ike, Nana dan Sarah yang dengan ‘sok gaul’nya pesta-pestaan tahun baru di atap kost-an saya di Jogja. It was fun, really. Kami beli minuman bersoda, keripik dan bersulang di tengah hujan dan kembang api tahun baru di Jogja. Setelah itu kami ganti baju yang kering lalu tidur berjejalan di kamar kost-an saya. Saya ingat, di atap kostan itu saya juga meneriakkan impian-impian saya di tahun 2013. Mungkin karena saya dengan kekeuhnya teriak-teriak di bawah guyuran hujan, Tuhan jadi kasihan dan mewujudkan semua yang saya teriakkan saat itu. Mungkin. Hehehe.

Seminggu dari pesta tahun baru itu, impian pertama saya terwujud. Nama saya tercantum dalam salah satu tweet sebagai pemenang Nescafe Journey 2. Pengalaman itu sudah saya tulis panjang lebar dalam 3 blogpost di awal tahun 2013 lalu. Silahkan dicari. Kalau saya pikir-pikir sekarang, rasanya masih aneh sekali. Saya yang tidak pernah menang undian atau sayembara semacam itu tiba-tiba menang dan bisa jalan-jalan bareng Nicsap. Perjalanan dua minggu itu sendiri lebih berarti dari sekedar jalan-jalan gratis bareng artis. Saya tahu saya belum menulis banyak tentang itu, *sigh*, tapi saya tetap berencana menuliskannya suatu hari nanti. Hehehe. Setelah trip dua minggu selesai, saya tau saya sudah punya keluarga baru. Nggak inget juga gimana ceritanya, anak Journey 1 dan 2 akhirnya dipersatukan Mbak Citra di grup Whatsapp. Tiga aspirer gila kita ikut juga tentunya. Mulai dari saling pamer foto “selamat pagi/siang/sore/malem” dari berbagai belahan dunia, curcol ceria dengan saran-saran gemblung, selepetan gosip-gosip selebreteis, diskusi-diskusi yang bikin geleng-geleng kepala sampe ngomentarin topik apa aja yang hanyut di dalam grup. Grup Nesjour emang paling berisik (dan paling manis, hehehe).

Setelah riuh Nescafe Journey 2 berlalu, ternyata ‘petualangan’ saya dengan keluarga ini belum berakhir juga. Dari obrolan-obrolan santai sampai diskusi serius di lapak sate dan warung gudeg, jalan-jalan ke puncak sambil makan tahu goreng dan ngobrolin masa depan, minum kopi sambil ngobrol tentang hidup, kerjaan dan cerita horor, ketemu orang-orang mengagumkan lainnya, dikasih tiket nonton grateis, sampe diet dengan sang PT ala-ala yang galak tapi perhatian… :))) semua boleh saya alamin berkat Nesjour. Nggak cuma saya sih, kayaknya ada anak-anak Nesjour lain yang hanyut dengan petualangan lainnya berkat Nesjour. Seneng deh dengernya! :)

Di pertengahan tahun, saya mulai disibukkan dengan DREaM, program summer school yang setiap tahunnya diadakan UGM untuk pelajar-pelajar dari luar Indonesia. Pengalaman dua minggu jadi komite DREaM ini berarti sekali buat saya. Segala tawa, air mata dan semua dinamika saya rasakan bareng panitia ini. Pelajaran berharga. Nggak cuma itu, saya pun bisa kenalan sama banyak teman baru, baik dari UGM maupun dari negara lain. Mulai dari Jepang, Australia, Belanda, Jerman, sampai negara-negara yang cukup asing bagi saya seperti Brunei, Mesir dan Argentina. Beberapa dari kami menjadi lebih dekat setelah event DREaM ini. Saya dengar ada yang berpacaran, bersahabat dekat, traveling bareng sampai ketemuan lagi beberapa bulan kemudian. Another nice long-term outcome of an event!

Berbarengan dengan event DREaM ini, saya apply untuk sebuah beasiswa ke Jepang dan akhirnya lolos sebagai kandidat yang akan berangkat di bulan September. Sudah lama sekali saya kagum dengan Jepang, jadi kesempatan yang datang ini tidak saya sia-siakan. Setelah DREaM selesai, saya mempersiapkan keberangkatan saya ke Jepang. Segala tiket, visa, perlengkapan yang harus dibawa, tetek bengek birokrasi, tukar menukar mata uang, dan berbagai upaya adaptasi memang merepotkan terutama di bulan-bulan menjelang keberangkatan dan 1-2 bulan pertama di Jepang. Saya rasa untuk ‘settled’ di negara serba teratur seperti Jepang memang membutuhkan upaya dan waktu lebih bagi kita, orang-orang Indonesia, yang terbiasa dengan kesemrawutan. Culture shock rasanya tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Hal yang menarik justru adalah pergesekan budaya dengan teman-teman exchange dari negara lainnya. Bagi saya yang super waspada dan sering terlalu sensitif, tentu saja hasilnya menarik. Sampai sekarang, ada kalanya saya ‘nggerundel’ dalam hati tentang si A atau si B yang saya curigai begini dan begitu, lalu pada akhirnya hal itu tidak terbukti. Atau bahkan terbukti sebaliknya… :))) rasanya tuh, yang namanya isi kepala benar-benar dibelah supaya terbuka lebar dan nggak cupet atau curigaan melulu.

Dengan Japan Journal yang sudah masuk ke nomor #102 ini artinya saya sudah hampir 3,5 bulan tinggal di Jepang. Cepat sekali rasanya. Dalam tiga bulan ini saya juga bersyukur dan senang sekali bisa melihat, melakukan, merasakan, mencium, menyentuh dan mendengar segala sesuatu yang dulu hanya bisa saya impi-impikan. Saya akan berusaha keras untuk menuliskan segala pengalaman itu di blog ini dalam banyak posting dan bukan meringkasnya menjadi 1-2 kalimat saja di post ini. Karena saya berharap postingan-postingan itu nantinya bisa jadi omiyage* yang paling berharga yang saya bawa pulang dari Jepang ini. Kalau misalnya ada posting yang bisa bermakna bagi orang lain, tentu saya ikut senang. Tapi saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri, sekaligus semua yang membaca blog ini, bahwa saya ingin menulis segala sesuatu di blog ini untuk diri sendiri dan tidak untuk menyenangkan siapapun. Bisa jadi terdengar cukup egois, tapi saya hanya ingin menulis semuanya dengan sejujur mungkin… :)

… However, I learned a LOT in 2013. Saya belajar bahwa ada banyak hal yang lebih berharga dari sekedar memenuhi ekspektasi orang lain tentang hidup kita. Saya juga belajar bahwa hal-hal yang berharga itu tidak mudah untuk diperjuangkan, butuh keberanian yang besar, kematangan pikiran dan kemantapan hati. Dan perlu disadari, kemantapan hati berbeda dengan sikap keras kepala yang sembrono dan tidak mau berpikir panjang. Saya juga belajar bahwa cara terbaik untuk menjalani hidup adalah dengan mengambil keputusan, melakukan yang terbaik dan melepaskan kekuatiran kita tentang hasil akhir keputusan kita itu. Stop controlling your life, because the fact is you can’t

Kampai for a great year ahead…!! :) *tos*

*Omiyage : oleh-oleh

Sat, 04.01.2014

08.28 PM

Di atas futon di kamar sendiri yang masih berantakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s