Winter Break Day 0 – A Fun(ny) Day (Part.2)

Langit makin gelap dan stasiun Okayama penuh manusia. Ternyata kami masuk stasiun ini di jam-jam para salaryman pulang kerja. Great! Saya tidak yakin apakah insiden wanita tadi berpengaruh atau tidak, tapi tidak seperti biasanya, seluruh jadwal kereta di stasiun itu terlambat. Yes, ini terjadi di Jepang, bukan di Lempuyangan atau Pasar Senen. Kereta terlambat itu kejadian yang cukup jarang, apalagi kalau terlambatnya sampai berbelas atau berpuluh menit.

Udara semakin dingin, jadwal kereta tidak pasti, saya mulai sedikit lapar. Kebetulan hari itu saya hanya bawa onigiri buatan sendiri karena tidak sempat masak lauk. Bodohnya, satu kotak onigiri sudah jatuh tumpah ke lantai di stasiun Shimonoseki. Tinggal tersisa satu kotak tapi saya sudah eneg sepanjang jalan makan nasi kepal melulu. Maka dari itu, jalanlah saya ke vending machine untuk beli sup kalengan. Kalau kalian ke Jepang saat udaranya dingin, coba deh sup kalengan ini. Enak sekali untuk menghangatkan badan! :)

Selesai menyeruput sup jagung keju itu, kami memutuskan untuk mengantre di antrian peron. Satu-dua kereta berlalu menurunkan penumpangnya, tetapi tidak ada yang berhenti untuk menaikkan penumpang. Stasiun makin penuh manusia berjejalan. Saya sudah menelepon hostel pertama kami di Kyoto, Guest House Yululu, untuk mengantisipasi kedatangan kami yang pasti akan terlambat. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kami memutuskan untuk mengubah rute karena kereta menuju Himeji tidak kunjung datang.

Saya lupa nama stasiun plan B kami, tetapi intinya kami memutuskan untuk naik ke sebuah kereta yang sepertinya menuju Kyoto. Tiara bertanya pada seorang mbak-mbak Jepang dan diiyakan bahwa kereta itu akan berangkat ke Kyoto. Naiklah kami. Tidak sampai 5 menit kereta berjalan, Tina bertanya pada seorang mbak-mbak Jepang lain di atas kereta dan mbak ini menjelaskan kalau kami salah naik kereta dan sebaiknya turun di 4 stasiun berikutnya. Dua mbak-mbak ini benar, kereta ini akan menuju ke Kyoto, tapi rutenya jauh dan memutar. Tentu saja kami panik. Batas waktu 18kippu adalah jam 12 malam. Bila kami belum sampai Kyoto di atas jam 12, kami harus beli tiket lagi. Tidak hanya itu, batas waktu check in di Yululu juga hanya sampai jam 10.

Setelah panik kami mereda, kami akhirnya turun di entah-stasiun-apa dan menunggu kereta selanjutnya ke Kyoto. Emosi masing-masing kami sudah naik turun saat itu. Gemes, kesal, rasa bersalah, lelah, bercampur satu dalam grup kami. Saat itu sepertinya sudah jam 9 kurang dan kami tidak tahu kami ada di mana. Sebagian handphone kami sudah habis baterai dan sebagian handphone lain masih kami butuhkan nanti untuk mencari jalan ke hostel kami di Kyoto. Kalau ingat saat itu rasanya ingin pakai “pintu ke mana saja”-nya Dora Emon saja. Tapi yah, akhirnya, kami berhasil masuk ke atas kereta yang tepat, kereta terakhir kami di rangkaian perjalanan panjang hari ke-0 kami. Asiknya, kami dapat kereta rapid yang kencang dan kami juga sempat melintasi Osaka. Wooo… all those neon signs! Rasanya lelah kami sudah sedikiiiit terbayar.

Sampai di Kyoto-eki, kami sudah seperti segerombolan zombie. Saya ingin diseret saja kalau bisa. Capek sekali! Kerennya stasiun Kyoto pun tidak bisa kami nikmati karena lelah luar biasa. Dari stasiun ini, kami harus naik subway ke Karasuma-oike dan jalan sekitar 10 menit dari sana. Looks and sounds easy. Tina sudah kuatir sama saya, “Gaby, are you okay? Smile, smile, we are now in Kyoto!” Saya hanya tersenyum datar. Badan saya memang lagi kurang enak juga. Well, tapi Kyoto memang spesial. Ketika kereta subway kami datang, ada sepotong lagu tradisional Jepang yang mengalun. Tina kembali mencoba menghibur saya, ” Gaby, smile, now you are in Kyoto. Do you hear that sound?” Saya tersenyum kecil. Ah Kyoto, akhirnya saya sampai juga di kota ini.

I really wish that day’s drama was over when we reached the subway. But, no. It’s not over just yet.

Keluar di permukaan tanah daerah Karasuma-oike, saya tahu kami harus melangkah ke mana. Tinggal belok kanan, jalan sebentar, lalu masuk gang dan sampailah. Saat itu sudah jam 10 lebih dan saya ingin cepat-cepat sampai ke Yululu karena saya bilang kalau kami akan sampai sekitar jam 10an. Setengah jalan, Tiara tiba-tiba menyetop kami dan bilang kalau kami berjalan ke arah yang salah. Dengan baterainya yang tinggal 15%, Google Maps Tiara menunjukkan kami salah jalan. Sedangkan saya dan Tina ngotot kalau kami semua sebentar lagi sampai dan GPS handphone kadang bisa salah. Shashika dan Viraji masih diam saja. Oh ya, saat itu juga hujan gerimis. Jadilah kami segerombolan zombie ini berdebat di bawah hujan dengan segala tentengan dan kaki kami yang mulai menjerit-jerit.

Lelah berdebat, kami menyetop seorang mas-mas Jepang dengan rambut gaul. Dia mencoba menjelaskan pada kami tapi saya saat itu sudah tidak terlalu nyambung dengan dunia nyata. Saya hanya memperhatikan logat si mas-mas ini agak berbeda. Mungkin itu Kansai-ben. Intinya si mas-mas ini bilang kami memang salah jalan. Dia menawarkan untuk mengantar kami, tetapi karena masih tidak yakin, jadi kami tolak.

Setelah dia berlalu, kami kembali ke pintu subway Karasuma-oike. Ada peta di sana. Setelah membaca peta, saya dan Tina masih yakin kami benar sedangkan Tiara masih yakin dengan GPS-nya. Ribet kan. Bolak-baliklah kami ke sana kemari dengan segala tentengan. Hingga akhirnya dalam perjalanan kami mengikuti GPS Tiara, kami bertemu seorang salaryman yang ramah sekali dan lancar berbahasa Inggris. Saking ramahnya, saya sedikit berpikir kalau orang ini sedikit mabuk. Si salaryman berpihak pada saya dan Tina. Kami semua berbalik arah lagi, kembali ke jalan pertama kami. Sambil jalan, si salaryman mengajak kami ngobrol tentang Indonesia dan segala rupa. Sepertinya dia habis dapat bonus atau naik gaji. Cerah sekali wajahnya. Setelah sekitar 100-200 meter, si salaryman pamit pulang dan dia berpesan “Nanti kalian jalan saja lurus, gang keempat belok kanan. Menurut saya sih kira-kira hostel kalian itu di sana. Kalau misalnya masih tidak ketemu, tanya orang Jepang saja pasti mau bantu! Orang Jepang itu baik-baik.” Baiklah.

Kami berjalan sejauh 4 blok. Firasat saya tidak enak karena sudah lebih 15 menit. Di gang keempat, kami belok kanan dan sampai … di entah-di-mana. Jam sudah menunjukkan jam 11. Gang itu berisi rumah-rumah dan restoran kecil yang sebagian besar sudah tutup hari itu. Saat kami berjalan memasuki gang, ada bapak-bapak tua yang sedang berpamitan dengan nenek-nenek muda keluar dari sebuah cafe. Saya, dalam zombie mode, numpang tanya pada si nenek tentang Guest House Yululu. Si nenek bingung. Si bapak tua ikut bingung. Mereka tidak tahu dan malah menawarkan kami semua untuk masuk dan makan sesuatu dari cafe-nya. Dari wajahnya, si nenek tampak khawatir dengan kami. Saya nggak heran. Lima gadis muda, kucel, banyak tentengan, kehujanan, tengah malam. Untung saja ini nyasarnya di Kyoto. Kalau di Jakarta … nggak tau deh saya.

Saya berpamitan sama si nenek dan berjalan lagi mencari Yululu. Saat itu kami berlima berusaha dengan segala cara yang kami bisa. Sebagian mengontak Yululu lagi (dan tidak diangkat karena sudah di atas jam 10), sebagian mengutak atik peta. Sekitar 10 menit kemudian, si nenek keluar lagi menemui kami yang masih berkutat di gang itu. Kali ini si nenek membawa sepasang wanita dan pria usia 20-30an, sepertinya sih anaknya. Mereka berusaha membantu kami dengan bahasa Inggris patah-patah. Mereka juga ikut membaca peta dan menelpon Yululu. Melihat itu, jujur saya terharu. Mereka menemani kami cukup lama hingga akhirnya mereka menawarkan untuk memanggilkan taksi karena malam semakin larut. Menurut mereka, dari alamat yang ada di web Yululu, hostel kami ini sekitar 7 blok dari tempat kami saat itu. Setelah berdiskusi panjang, kami memutuskan untuk berjalan sekali lagi dengan GPS Viraji. Jumlah kami yang 5 orang menyulitkan kami untuk naik 1 taksi.

DSC04203
ini dua hari kemudian …

20 menit berjalan kaki, kami sampai. KAMI SAMPAI, SODARA-SODARA! Saat itu sudah jam 12 malam. Perasaan saya tidak bisa dideskripsikan. Untunglah saat saya buka pintu hostel kecil itu, kami masih disambut hangat oleh tiga staff Yululu: Chana, Fato dan satu perempuan yang saya lupa namanya. Kami masih boleh check-in! Lega sekali rasanya. Long story short, bebersihlah kami, gelar-gelar futon, masak makan malam simpel di dapur komunal, dan tidur dengan senyum mengembang… :)

kamar kami yang nyaman..
kamar kami yang nyaman..

Sebelum tidur, saya ngobrol dengan Viraji. Saya sedikit curhat dan mengeluh tentang capeknya hari itu. Bukannya ikut mengeluh, Viraji malah bilang kira-kira begini, “Ah Gebi, I think today is the funniest day in my life. Someone fell down inside our train, we took the wrong train to Kyoto, and we met a lot of interesting people this whole day. Yes I think today is very funny.” … Entah kenapa, setelah mendengar kalimat Viraji, saya jadi lebih legawa menerima semua kejadian hari itu. Life is indeed funny, isn’t it?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s