5000 Kilometer Menuju Saga (Part. 3 – End)

I know, saya seharusnya menulis tentang winter break kemarin, ya. Tapi ini ‘hutang’ postingan masih menumpuk. Huhuhu. Let me finish my first adventure trip to Japan, OK?

Perjalanan dari Singapura ke Bangkok sangat singkat, hanya sekitar 1-2 jam dengan pesawat sedang. Sampai di bandara Suvarnabhumi, saya disambut dengan atmosfer bandara yang … suram dan horor. Saya masih ingat rasanya pengap dan redup sekali ruangan-ruangan bandara itu. Belum lagi petugas pemeriksaan cabin luggage yang sedikit galak. Saat saya mendarat di sana, waktu sudah menunjukkan pukul 10 atau 11-an malam. Penerbangan selanjutnya akan take-off jam 12-an. Saya sudah sedikit teler karena ngantuk dan masih harus menghadapi petugas yang ribet.

Jadi ketika melewati mesin, mereka menemukan sesuatu di tas saya yang mencurigakan. Saya disuruh bongkar cabin luggage saya di depan si petugas, padahal saya lagi bawa stok pembalut banyak *blush*. Pertama, yang dia curigai adalah selongsong cutter saya yang padahal isinya sudah saya kosongkan di bandara Ahmad Yani. Dia tetap maksa mengambil selongsong itu. Oke, nggak masalah, kata saya. Lalu diperiksa lagi di mesin 2-3 kali. Masih ada masalah. Bertanyalah dia dengan bahasa inggris beraksen thai tentang benda berbahaya yang saya bawa. Yaolo, mau bawa apa sih saya? Bingung juga, sudah saya pikir-pikir, gak ada barang aneh yang saya bawa kok. Setelah dia ubek-ubek koper saya lagi, rupanya yang dia curigai adalah souvenir miniatur Candi Prambanan yang saya beli di Jogja… *facepalm* gara-garanya, ujung miniaturnya itu lancip. Saya jelaskan, itu souvenir dari Indonesia yang saya bawa. Akhirnya saya lolos juga. Fyuh.

Menunggu di Suvarnabhumi, cukup membosankan. Karena saya diinterogasi lama sekali oleh si petugas tadi, saya kehilangan jejak penumpang yang satu pesawat. Berputar-putarlah saya entah-di-bagian-mana gedung itu. Untunglah saya ketemu petugas Thai Airways yang menunjukkan jalan ke gate yang benar. Entah saya yang nyasar atau bagaimana, tapi jalan yang saya tempuh jauuuuh sekali. Iya ‘u’ nya empat karena memang jauh. Kira-kira setelah berjalan setengah jam, saya sampai di gate itu, yang ternyata terletak paling ujung. Tidak ada shuttle, travelator, atau apapun juga. Aneh. Lalu ada juga kejadian aneh ketika saya mau beli air minum di salah satu kios airport. Si mbak penjualnya minta saya menunjukkan paspor. Sampai sekarang saya tidak tahu maksudnya, apa kalian ada yang tahu kenapa begitu? Karena pengalaman saya di Changi, saya beli apapun juga tidak pernah diminta untuk menunjukkan paspor.

Setelah menunggu beberapa lama di ruang tunggu, panggilan boarding menggema. Yep, akhirnya saya berangkat menuju Jepang! Akhirnya, ketika turun dari pesawat besok pagi nanti, saya akan menginjakkan kaki di Jepang! *terharu* Dengan sedikit deg-degan saya masuk ke pesawat besar itu. Perjalanan 7 jam ini akan menjadi perjalanan panjang solo pertama saya.

Sambil sesekali minum, makan, nonton film atau mendengarkan playlist jazz dari in-flight entertainment, saya menikmati kelap-kelip lampu di bawah yang sesekali muncul hingga saya ketiduran. Untungnya saya tetap nyenyak-nyenyak saja tidur di cabin.

Pagi-pagi betul saya dibangunkan mbak pramugari yang menawarkan sarapan pagi. Matahari sudah terang sekali padahal belum jam 7 pagi. Kami terbang cukup tinggi sepertinya.

DSC00198

Tidak lama, pesawat mulai terbang merendah. Makin rendah, dan rendah, hingga pulau-pulau mulai tampak. Saya tau kami sudah memasuki wilayah Jepang. Kami melewati pulau dengan mercusuar yang tampak kesepian, gunung-gunung dengan hutan yang hijau dan lebat, petak-petak sawah, … hingga akhirnya kami terbang di atas concrete jungle dengan bangunan-bangunan kotak khas Jepang. Seketika, saya tau kami sudah berada di atas Fukuoka.

DSC00222

Mungkin terdengar berlebihan sekali, tapi saya sempat meneteskan air mata ketika melintas di atas gedung-gedung itu. Saya teringat segala ucapan saya tentang mimpi-mimpi saya untuk tinggal di Jepang, segala komik yang saya baca dan buat, segala film dan video tentang Jepang yang ‘mengundang’ saya untuk datang ke negeri ini sejak saya kecil dulu. Saya juga ingat aplikasi monbusho saya yang tidak jadi saya lanjutkan, segala upaya pendaftaran beasiswa yang sebelumnya gagal. Semua hal itu melintas cepat seperti frame-frame rol film dalam kepala saya.

Hingga akhirnya, lamunan saya terpecah oleh pengumuman mbak pramugari. Dalam bahasa Jepang. Yup, saya sudah sampai.

DSC00244

Terima kasih pada Tuhan, juga keluarga saya, Papi, Mami, Cik Misyel, Endru, dan juga seluruh keluarga besar, guru dan teman-teman sekalian yang menjadikan perjalanan saya ini mungkin dan tidak berhenti pada tahap ‘rencana’. Sekali lagi, terima kasih banyak! :’)

DSC00245 DSC00284 DSC00287

Advertisements

2 thoughts on “5000 Kilometer Menuju Saga (Part. 3 – End)

  1. mbak boleh tanya nggak, disana mbak memilih tinggal di asrama atau private apartment? terus living costnya perbulan berapa ya? mksh ya mbak :)

    1. Halo Intan, semoga belum terlambat jawabannya ya. Saya pilih tinggal di private apartment karena kebetulan ada yg nawarin rumah sewa murah dan bisa split rent sama teman. Living cost sangat tergantung gaya hidup sih. Untuk ukuran Saga, makan perhari 1500 yen sudah cukup mewah menurut saya. Listrik-gas-air kira-kira 10000 yen paling mahal. Tapi kalau apato mungkin sedikit beda ya, kurang tau juga. Kalau ditawarin di asrama, kayaknya saya bakal milih di asrama saja deh. Lebih murah dan sudah bagus. Hehe. Semoga membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s