Belajar Sopan A La Jepang

Disclaimer: Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengamatan saya seorang, bisa jadi beda dengan apa yang kamu alamin. Eh tapi, kalo beda, tulis di komen dong! :)

Di saat-saat pertama saya tinggal di Jepang, kagum sekali rasanya dengan kesopanan orang-orang di sini. Sebagian besar dari orang-orang yang saya temui selalu bertutur santun sembari tersenyum. Kalau kita masuk ke supermarket, konbini (convenience store macam ind*maret), depato (department store), restoran atau mana saja, para pelayan pasti langsung menyambut “Irasshaimase! Konnichiwa!” dengan wajah berseri-seri layaknya habis gajian setiap hari. Pertama kali berkenalan dengan orang Jepang pun biasanya selalu begitu, walaupun kita tidak bisa bahasa Jepang, mereka akan tetap senyum-senyum sambil mencoba bicara dengan kita sebisa mungkin dan menemani kita walaupun terasa awkward (banget).

Begitu juga dalam hal minta maaf. Banyak sekali kesempatan di mana saya melihat orang yang ‘disalahi’ malah minta maaf ke orang yang salah. Orang yang ditubruk, minta maaf ke orang yang (nggak sengaja) nubruk. Orang yang keinjek, minta maaf ke orang yang (nggak sengaja) nginjek. Biasanya hal ini berakhir dengan maaf-maafan. Adem ya? Hal-hal kayak gini banyak banget saya temuin di sini, khususnya di kota saya yang kecil. Kalau Tokyo atau kota besar lainnya rasanya sudah sedikit berubah, walaupun masih bisa ditemukan.

Bagi cewek-cewek yang tinggal di Indonesia, pasti paham rasanya dipanggil-panggil abang-abang tukang parkir atau kuli bangunan di pinggir jalan. Setidaknya sekali dalam seumur hidup pasti pernah. Tapi kemudian ketika saya sampai di sini, hal itu tidak pernah terjadi. Di kota saya, banyak sekali proyek bangunan yang sedang dibangun. Banyak sekali kesempatan bertemu tukang-tukang dan kuli bangunan di sini. Tetapi, syukurlah, mereka tidak pernah sekalipun mengganggu cewek-cewek yang lewat. Rasanya bahagia sekali dan saya juga nggak pernah sekalipun merasa takut dan risih untuk jalan di manapun dan jam berapapun. Tapi dalam hal ini, mungkin ada korelasi tingkat pendidikan dan kesejahteraan juga ya. Mungkin.

Dalam hal ngobrol pun begitu. Bagi kalian yang belajar bahasa Jepang, tentunya tau ada kelompok bahasa Jepang yang namanya “Keego”. Sebenarnya penggunaan keego mirip dengan tata bahasa di dalam bahasa Jawa dengan perbedaan bahasa kromo dan ngoko-nya. Berkali-kali saya belajar penggunaan keego ini dan berkali-kali pula saya gagal untuk menyukainya. Keego adalah bahasa yang ditujukan untuk orang-orang yang lebih tua dari kita ataupun lebih tinggi “status”nya daripada kita. Status di sini hampir selalu dalam artian status dalam pekerjaan. Alasan penggunaan keego ini pun (lagi-lagi) untuk terlihat sopan di hadapan orang-orang yang lebih tua dan/atau lebih berpengalaman daripada kita.

Tapi sebenarnya tidak selesai sampai di keego saja sih. Dalam bahasa sehari-hari pun ada bahasa kasual sopan dan bahasa kasual simpel. Ada kalanya keego itu diharuskan, tapi ada kalanya bahasa kasual sopan itu cukup. Penggunaan bahasa ini lebih penting dari yang kita kira, lho. Salah-salah pakai, bisa-bisa muka orang yang kita ajak omong jadi berubah jadi tidak enak. Tapi tenang aja, selama lawan bicara kita tau kalau kita gaijin (orang asing), mereka akan mengerti dan tentu saja tetap tersenyum ramah tanpa memberitahu kalau kita sebenarnya salah. Harus sopan, ya kan? :)))

Dalam menjawab pertanyaan orang juga ada seninya. Untuk orang-orang Jepang yang sudah terlatih sejak kecil, tentunya tidak harus belajar hal ini. Tetapi bagi kita, para gaijin yang akan tinggal cukup lama di sini, tentunya perlu belajar. Dalam kelas bahasa Jepang, sering sekali kami diingatkan sensei tentang bagaimana respon yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup. Saat pertama-tama belajar, hal ini terasa lucu. Apalagi untuk orang-orang yang terbiasa berbicara to-the-point, hal ini akan terasa begitu ‘palsu’. Begitulah percakapan bahasa Jepang, the art to be ‘not-straightforward’. Makin berbelit-belit, sepertinya makin terasa sopan didengar.

Contoh yang paling simpel dan suka sekali saya praktekkan dengan teman-teman adalah perihal memberi jawaban untuk menolak sesuatu. Untuk menolak sesuatu, menjawab dengan langsung berkata “Tidak” di sini ‘kurang disarankan’ karena dianggap kurang sopan. Maka dari itu, kami diajarkan untuk menggunakan kata sakti … “Eee, chotto…” :)))

A: “Juugyou ga owattara, issho ni kissaten ni ikimashou?” (Setelah selesai kelas, ke kafe yuk!)
Anggaplah yang mengajak ngopi ini cowok yang nggak kita suka, begitu.
B: “Eee, chotto… Shukudai wa takusan arimasukedo…” (Waduh… Lagi banyak PR nih…)

Begitulah seharusnya, tidak perlu menjawab iya atau tidak. Tidak perlu bilang “saya tidak bisa pergi” juga. Cukup “Eee, chotto…” dan beri alasan yang membuat si lawan bicara tidak bisa berkutik lagi. :)))

Contoh selanjutnya, dalam hal menerima pujian. Saya amati, biasanya orang-orang dari Barat, khususnya Amerika akan memberi respon natural yang sangat berbeda dari orang Jepang ketika menerima pujian.

*PP (Pemberi Pujian)
*OA (Orang Amerika)
*OJ (Orang Jepang)

PP: Hi OA, your Japanese is so good! The accent is perfect!
OA: Why thank you, PP! I have been learning so hard for the past 3 years.

Sementara itu…

PP: Hi OJ, your English is so good! The accent is perfect!
OJ: Iie, iie, zenzen! Watashi wa eigo wo hanasu no wa heta da yo. (Not at all! I am bad at talking in English.)

… Always. Selalu be-gi-tu. Kecuali mungkin kalau sudah akrab, ya.. :)))

Pernah sekali waktu, seorang bapak berkacamata mirip gurunya Nobita mengajak saya ngobrol. Perlu diketahui, di sini saya sering sekali dikira orang Jepang kalau saya tidak bicara. (newsflash, nggak semua cewek Jepang itu kawaii, yang setandar kayak saya juga banyak… :p) Kebetulan, si Bapak ini tau saya gaijin, tapi nampaknya dia mengira saya lancar bahasa Jepang. Mulailah dia ngobrol dari budaya Indonesia, kehidupan di sana, sampai perekonomian Jepang yang melemah dan perekonomian Indonesia yang sedang menguat. (FYI, ini topik yang sering banget dibicarain sama bapak-bapak di sini). Sampai topik tentang ekonomi itu, berhentilah saya. Ora mudheng basane. Walaupun begitu, beliau tetap mengapresiasi kemampuan saya.

Dia memuji, “Anata no nihongo wa jyouzu desu ne!” (Bahasa Jepangmu bagus ya!)
Saya tau seharusnya saya menjawab dengan Japanese way, tapi kali itu saya pusing sehabis ngobrol tentang ekonomi.
“Hai, sou desu yo!” (Iya, betul!) jawab saya dengan keblinger namun percaya diri.
Seketika raut wajah si Bapak langsung berubah aneh, dan ada awkward silence selama beberapa detik.

“Eeee! Iie, iie! Zenzen jyouzu ja arimasen!” (Eeee! Tidak, tidak! Sama sekali tidak bagus!) ralat saya dengan panik.

Setelah itu, cairlah suasana seketika. Hahaha!

DSC06665
kalo sopan, disayang ultraman.
Advertisements

5 thoughts on “Belajar Sopan A La Jepang

  1. Kalo yang saya perhatiin Gab, ada satu hal yang di Jepang itu berkembang tapi gak tau deh kalo di negara laen. Bahkan sampai sekarang ya. Yaitu budaya melayani. Bahwa melayani itu adalah sebuah tindakan mulia. Itu kenapa semua orang jadi sopan, karna itu ngebuat mereka rendah hati.

    1. Hm, bisa jadi iya juga Pam. Saya inget waktu berkunjung ke SD di sini, waktu makan siang mereka dibiasain untuk ngelayanin temennya (semacam piket begitu). Waktu selesai makan juga ngerapihin bareng-bareng. Pernah punya pengalaman gimana soal budaya melayani di sini? :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s