Prinsip Hidup A La ‘Binbou’ Bahagia di Jepang (Revised)

Bulan September kemarin diakhiri dengan beberapa teman saya yang berangkat ke Jepang untuk kuliah. Sebagian melanjutkan S2, sebagian lainnya berangkat exchange ke sana. Perkuliahan murid asing di Jepang memang biasanya dimulai dalam dua term: Spring (Bulan April) atau Fall (Bulan Oktober). Nah, postingan ini dibuat berdasarkan pesanan salah satu teman saya itu. Sebut saja A, seorang artis Instagram asal Yogyakarta. Mumpung saya lagi selo dan baik, cus lah saya bikin tulisan ini.

IMG_3310
<3 <3 <3

Ketika saya tinggal di Jepang 2 tahun lalu, sebagian besar mahasiswa Indonesia yang saya temui di sana adalah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Ada yang mendapat beasiswa Dikti, Monbusho, Jasso, Rotary, dan lain-lain. Jumlahnya lumayan besar, menurut saya. Apalagi jumlah beasiswa S2 atau S3 dari Monbusho atau lembaga internasional seperti Sato Foundation. Jumlahnya sangat cukup untuk tinggal seorang diri di Jepang. Sekitar 100-200an ribu Yen per bulannya. Persoalannya, tidak sedikit mahasiswa S2-S3 yang sudah berkeluarga. Jadi jumlah yang lumayan banget untuk diri sendiri itu harus dibagi 2 hingga 5 orang. Hehehe. Eits, tapi yang tinggal sendiri pun juga tidak selalu berfoya-foya kok. Daripada digunakan untuk hidup ‘layak’, sepertinya hati ini lebih ikhlas kalau uangnya ditabung untuk jalan-jalan! Ya, setidaknya itu prinsip saya. Hehe.

Sebagai catatan, saya tinggal di Jepang, tepatnya di prefektur Saga (Kyushu) pada periode September 2013 – Agustus 2014. Selama itu saya mendapatkan beasiswa JASSO untuk short-term study sebesar 80,000 Yen per bulannya. Perlu diingat juga, lokasi tempat studi kita di Jepang akan sangat menentukan apakah uang beasiswa itu akan terasa besar atau kecil di dompet kita. Contohnya, 80,000 Yen/ Bulan di Tokyo akan membuat kita meringis sedih saat mencari apato, tetapi 80,000 Yen/ Bulan di Saga akan menghidupi kita dengan layak dan tentram. *seruput teh*

IMG_0227
hidup bahagiak <3

Walaupun saya merasa cukup dengan 80,000 Yen, ada beberapa alasan yang membuat saya tetap ingin hidup hemat. Salah satunya adalah karena saya ingin menjelajah Jepang. Salah duanya adalah karena punya banyak uang lebih baik daripada tidak punya uang. Yeah. Engga deng, salah duanya adalah saya perlu menabung untuk beli tiket pulang. Hehehe. Nah, maka dari itu lah selama 11 bulan saya tinggal di Saga, saya menerapkan prinsip-prinsip hidup ‘binbou’ bahagia alias hidup prihatin (baca: miskin, melarat, pelit) tapi tetap syenang. Inilah prinsip hidup ‘binbou’ bahagia a la saya:

  1. Kalau bisa pinjam, jangan beli.
  2. Kalau bisa buat sendiri, jangan beli.
  3. Kalau dilihat / dicium / difoto saja sudah puas, jangan beli.
  4. Kalau bisa jalan kaki / naik sepeda, jangan naik bus / kereta.
  5. Kalau bisa beli barang bekas dengan kualitas oke, jangan beli yang baru.
  6. Kalau bisa patungan, jangan beli sendiri.
  7. Kalau bisa gratis, ngapain bayar.
  8. Perluas koneksi.
  9. Pengalaman itu priceless.
  10. Jangan lupa bahagia.

Nah itu sudah. FYI, prinsip 1-7 banyak saya tiru dari teman Tiongkok saya, Ting-Ting. Tidak seperti saya yang Cina KW, Ting-Ting adalah seorang wanita yang dididik untuk berhemat dengan keras a la Tiongkok tulen. Saya ingat beberapa hal ‘keren’ yang dia lakukan untuk berhemat, contohnya: membawa beras dan buah saat traveling supaya tidak perlu makan di luar, tidak memakai penghangat saat musim dingin agar tidak menambah iuran listrik, sarapan pisang dan tepung selama berminggu-minggu. Da saya mah apa, baru hemat kalo kepepet.

Ting-Ting Si Hebat
Ting-Ting Si Hebat

Saya merevisi dengan menambahkan prinsip nomor 8 di atas: Perluas koneksi. Di manapun juga, koneksi adalah sesuatu yang penting. Selain karena berteman itu menyenangkan, punya koneksi yang luas juga akan membuka banyak pintu kesempatan di hidup kita. We would never know what we might get from that boy we said ‘hi’ to this morning, or that quiet girl whom we helped at the parking lot. Bisa jadi nantinya kita dapet tawaran pekerjaan, tebengan tempat tinggal waktu liburan, kenalan gebetan, traktiran makan di rumahnya, tawaran liburan bareng, undangan party, barang secondhand, or maybe just pure good time spent with them and a life-long friendship. They are all nice things, aren’t they? Therefore, I think we shouldn’t think twice to be friendly and kind to everyone. Etapi jangan jadi berharap imbalan juga ya..

O ya, prinsip 9 dan 10 itu juga super penting. Jangan sampai hidup prihatin membuat kita lupa bahagia dan lupa merasakan pengalaman-pengalaman berharga. Itulah kenapa saya tetap sering makan di luar dan ikut acara-acara asik di Saga. Karena pengalaman makan sashimi kuda dan nonton hanabi pake yukata itu pada akhirnya tidak akan tergantikan oleh apapun juga. :)

pake yukata, nonton hanabi, kapan lagi?
pake yukata, nonton hanabi, kapan lagi?

(to be continued to “Tips & Trik Hidup A La Binbou Bahagia di Jepang” ;)

Advertisements

One thought on “Prinsip Hidup A La ‘Binbou’ Bahagia di Jepang (Revised)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s