Mandi Bareng Ikemen di Kaki Gunung Fuji

*Ikemen (Bahasa Jepang): Pria tampan.

Warning: this post could be sort of NSFW for some people.

Akhir-akhir ini, seluruh timeline socmed saya penuh postingan tentang LGBT. Baik yang pro, kontra, maupun yang di tengah-tengah. Saya jadi tegang dan pening terus setiap buka socmed. Adek lelah. Tetapi tiba-tiba saja, saya malah teringat akan sebuah kejadian yang saya alami di Jepang saat musim semi dua tahun lalu. Nggak begitu nyambung sih sebenarnya, tapi entah kenapa saya jadi kepikiran terus dan deg-degan mengingatnya. Hihihi.

Cerita ini terjadi di pertengahan bulan Maret 2014. Saya memutuskan untuk liburan ke Gunung Fuji selama 2 hari 1 malam. Saat itu saya sedang menetap di Tokyo selama satu bulan (baca di sini). Mengunjungi Gunung Fuji dan melihat gunung itu dari dekat dengan mata kepala saya sendiri adalah salah satu impian saya sejak kecil. Bentuknya yang sempurna dan pemandangan dari empat danau yang mengelilinginya selalu terlihat sangat indah dan mengundang.

IMG_2239
Fujisan dari Danau Yamanaka – (taken by me)

Setelah melakukan sedikit riset, saya memutuskan untuk menginap di sekitar Danau Yamanaka. Danau di kaki Gunung Fuji ini merupakan danau paling besar dibandingkan 3 danau lainnya, tetapi sangat kurang populer dibandingkan Danau Kawaguchi yang selalu terpampang di brosur tour dan travel wisata Jepang. Alasan utama saya mengunjungi danau ini adalah sebuah onsen bernama Benifuji No Yu. “Beni” dalam kata Benifuji berarti warna merah. Onsen ini dinamakan demikian karena pada pagi-pagi tertentu di musim dingin, kita bisa melihat fenomena Gunung Fuji yang berwarna merah (Benifuji) dari onsen ini. Intemeresting, huh?

Onsen Benifuji No Yu juga sangat istimewa karena harga tiket masuknya terjangkau dan lokasinya yang menghadap langsung ke kemegahan Gunung Fuji. Di antara beberapa onsen di kaki Gunung Fuji, hanya segelintir onsen umum yang memiliki akses pemandangan langsung ke gunung sumber inspirasi seniman dan pujangga Jepang itu. Beberapa onsen lain hanya memberikan akses spesial tersebut kalau kita memesan onsen pribadi atau menginap di hotel tempat onsen itu berada. Harga hotel dengan onsen pribadi seperti ini tentu di luar budget saya karena bisa mencapai jutaan rupiah semalam.

6_2
Benifuji no Yu

Nah, di hari kedua, sekitar jam 3 sore, saya melangkahkan kaki ke onsen itu dengan riang gembira. Budaya onsen adalah salah satu budaya Jepang yang sangat saya gemari karena sejak kecil, saya suka sekali mandi air panas di cuaca apapun. Cocok kan. Hehe. Sore itu, saya sudah membayangkan akan mandi air hangat di rotenburo (kolam air panas outdoor) sambil berlama-lama menghayati keindahan Gunung Fuji yang sedang bersalju. Gedung onsen ini kebetulan terletak tidak jauh dari ryokan (penginapan tradisional) tempat saya menginap. Jadi saya bisa sampai dengan 10-15 menit berjalan kaki.

Sesampainya di sana, saya segera membeli tiket dan handuk kecil lalu masuk ke ruang ganti. Saya amati, onsen Benifuji no Yu ini ternyata jauh berbeda dengan onsen lain yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Ini jelas onsen wisata. Gedungnya besar, ada restorannya, area untuk makan bersama keluarga pun luas sekali. Pengunjungnya pun kebanyakan adalah keluarga besar yang sedang liburan musim semi.

IMG_2423.JPG
Area Makan Keluarga di Benifuji no Yu – (taken by me)

Ruang ganti di sana dibagi jadi dua: perempuan dan laki-laki. Seingat saya, onsen ini memang dipisah laki-laki dan perempuannya, jadi di ruangan ganti itu pun isinya perempuan semua. (Sampai sekarang, di Jepang masih ada onsen campur. Hehe.) Di sana seluruh pengunjung wajib telanjang bulat untuk masuk ke area mandi. Saya pun ikut melepas seluruh pakaian, masuk ke area mandi dan sekejap … rasanya seperti menjadi manusia seutuhnya. Bebas, merdeka, dan tidak pakai apa-apa. Hihihi. Itu mungkin karena saya tidak kenal siapa-siapa di sana ya, jadinya terasa bebas merdeka jalan-jalan telanjang.

Di dalam area pemandian indoor, ada puluhan mbak-mbak, ibu-ibu, adik-adik dan nenek-nenek yang berjalan-jalan telanjang bulat. Sebagian besar dari mereka jelas orang Jepang. Hanya sebagian kecil yang gaijin (orang asing). Mereka duduk menikmati sauna, berendam whirlpool, mandi di shower atau ngobrol sambil berendam di bak biasa. Uap panas mengepul-ngepul memenuhi seluruh ruangan besar itu sampai ke langit-langitnya yang tinggi. Sejenak mengingatkan saya pada film Spirited Away.

tumblr-lx6oufykml1qzav11o1-500
Onsen di Spirited Away

Setelah mandi dan menjelajah pemandian indoor, saya mengintip ke luar jendela. Ah.. itu rotenburo-nya. Ada dua area mandi di luar gedung ini. Saya tengok kiri-kanan, berusaha mencari tulisan yang bisa meyakinkan diri saya kalau area outdoor pun hanya untuk wanita. (Karena ada beberapa onsen yang rotenburo-nya dicampur). Nihil. Tanpa mengenakan kacamata, saya amati kepala-kepala yang sedang berendam di luar. Sepertinya sih wanita semua. Hmmm. Saya sungguh tidak siap kalau harus telanjang di depan bapak-bapak dan mas-mas di sana. Ugh… puncak Gunung Fuji dan tumpukan salju di sekitar rotenburo itu juga terus memanggil saya untuk keluar.

at_beni-fuji-no-yu
Rotenburo di Benifuji no Yu

Setelah membulatkan tekad, saya memutuskan untuk melangkah ke luar. Kapan lagi kan? Saya sudah sampai sejauh ini, jangan sampai pulang dengan penyesalan! *ceklek* Saya membuka pintu. Sebisa mungkin, saya tutupi bagian depan tubuh dengan handuk tipis 20x40cm yang saya beli tadi. Tentu saja hampir tidak dapat menutupi apapun.

Deg, deg, deg. Hati saya berdegup kencang seiring saya menuruni tangga kayu ke pelataran rotenburo. Saya ingin memastikan ulang dari jarak dekat, tapi kepala saya malah merunduk karena deg-degan ingin segera masuk ke dalam bak.

Kaki saya bergetar ketika masuk ke bak penuh orang itu. Campuran antara kedinginan dan ketakutan. Setelah menenggelamkan badan hingga ke leher, saya baru bisa bernapas lega. Fiuh. Setidaknya sekarang hanya kepala saja yang terlihat. Hehe. Kemudian saya melihat ke sekitar sambil tersenyum-senyum sendiri. Tumpukan salju putih di tanah dan bebatuan, pepohonan yang tertutup salju, kepulan uap dari air panas alami, suara gemericik air, hembusan angin dingin, puncak Gunung Fuji yang berkilauan. Oh em ji. Ini postcard material banget! Dreams do come true! Orang-orang di sana pasti heran melihat saya senyum-senyum bego sendirian.

199764ac2dcb9dceda3ac3ad24bea1ba.jpg
It was daaaamn good.

Hingga tiba-tiba, di antara kepala ibu-ibu dan nenek-nenek yang muncul di permukaan air, saya melihat sesosok wajah yang … tampan. DHEG. Rambutnya hitam legam berpotongan cepak razor cut dengan poni panjang khas laki-laki jepang masa kini. Matanya dalam dan teduh dengan sorot yang tajam. Raut wajahnya dingin ala-ala kuudere (google it). Kulitnya putih pucat dengan bahu yang bidang, menyembul di permukaan air. Coba bayangkan Light Yagami dengan rambut hitam pekat yang lebih jigrak plus kulit sepucat L. Begitulah bentukan si tampan ini.

Light-yagami-kira
Light Yagami

Kalau ini cerita manga, maka panel background di belakang saya sekarang pasti berwarna hitam dengan garis-garis depresif. Senyum bego saya langsung memudar. Wajah saya jelas terlihat syok sekaligus merona. Karena airnya panas… dan mas-nya tampan. Percayalah, saya kebat-kebit nggak karuan. Satu, well, karena saya telanjang, dia telanjang, dan kami ada di bak yang sama. Dua, karena pintu keluar bak ini ada di belakang saya dan posisi si tampan ini ada di ujung bak. Berarti, dia harus melewati saya kalau mau keluar dari bak. Tiga, karena ketika saya shock melihat wajahnya, mata kami bertemu dan dia sadar kalau saya kaget. Empat, karena sekarang dia terus melihat ke arah saya sambil senyum-senyum aneh. Mungkin karena saya sendirian, tidak ada teman ngobrol, dan jelas tampak salah tingkah.

Setelah itu saya sibuk mengalihkan pandangan saya ke tempat lain, berusaha menikmati suasana (yang sekarang jelas sudah berubah karena kehadiran si tampan), hingga berusaha menerjemahkan pembicaraan ibu-ibu sebelah dalam hati supaya fokus saya teralihkan dari si tampan. Huhuhu, saya benar-benar bingung saat itu.

dfebfc00aa4ca59e521d7069910b5cd6.jpg
Coba, gimana perasaanmu??

Sekitar 10-15 menit kemudian, si tampan tampak bersiap-siap keluar dari bak. Sepertinya dia juga sendirian karena dari awal datang, dia hanya duduk di pojok tanpa bicara. Kalau saya keluar sekarang, ketahuan jelas saya panik dan salah tingkah. Nanti dia malah melihat saya telanjang juga. Uh oh. Akhirnya saya memutuskan untuk diam saja sambil menunduk. Tidak berapa lama, saya melihat sosok si tampan berdiri dan berjalan ke arah tangga keluar bak di belakang saya.

TAPI …

LHO …

KOK …

TERNYATA …

MENONJOL.

Si tampan pun berlalu dan keluar dari bak pemandian. Saya baru berani melihat sekeliling dengan seksama. Ah … ternyata rotenburo di sini khusus untuk perempuan juga. Hihihi.

The End.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s